Komitmen SIG Lindungi Warisan Arkeologi Dunia Bulu Sipong 4 di Sulsel

Komitmen SIG Lindungi Warisan Arkeologi Dunia Bulu Sipong 4 di Sulsel

Poin Penting

  • SIG menegaskan komitmennya melestarikan situs prasejarah Bulu Sipong 4 di Sulawesi Selatan yang menyimpan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun.
  • PT Semen Tonasa menetapkan kawasan konservasi seluas 31,64 hektare di area tambang serta mengelola situs melalui program perlindungan budaya dan lingkungan.
  • Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menjadi habitat flora dan fauna endemik, dengan indeks keanekaragaman hayati yang terus meningkat hingga 2025.

Jakarta – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian warisan budaya dunia melalui perlindungan situs prasejarah Leang (Gua) Bulu Sipong 4 di Sulawesi Selatan. Upaya tersebut dilakukan bersama anak usahanya, PT Semen Tonasa, sebagai bagian dari penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Gua Bulu Sipong 4 dikenal sebagai lokasi seni cadas tertua di dunia di mana terdapat lukisan yang diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun.

Lukisan tersebut menggambarkan adegan perburuan hewan oleh manusia pada masa prasejarah dan menjadi salah satu bukti penting perkembangan peradaban manusia.

Cagar budaya Bulu Sipong 4 berada di area tambang tanah liat milik PT Semen Tonasa yang berlokasi di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Budaya K3 jadi Prioritas, SIG Sukses Catat Zero Fatality di Seluruh Operasi

Mengacu pada buku Cultural Heritage Management Plan yang disusun PT Semen Tonasa, situs ini merupakan salah satu gua prasejarah di Bukit Bulu Sipong yang pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016.

Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian melalui pengambilan sampel penanggalan pada lukisan cadas. Selanjutnya dilakukan kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk perlindungan situs prasejarah tersebut.

Atas rekomendasi SIG sebagai induk usaha, PT Semen Tonasa menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau sekitar 11,3 persen dari total lahan tambang seluas 280 hektare sebagai kawasan konservasi.

Baca juga: Bahaya Laten Free Float 15 Persen: Ketika Pasar Berbisik “Go Private”, Waspadalah Jika Bank Ikut Arus

Pada 18 Mei 2018, perusahaan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong guna melindungi keanekaragaman hayati sekaligus menjaga kawasan geopark dan situs purbakala di sekitar area tambang.

Bulu Sipong 4 yang menjadi salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep kemudian resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis pada 2023.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengatakan, penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai kawasan g menjadi bukti komitmen SIG dan PT Semen Tonasa terhadap pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan industri dengan lingkungan dan nilai budaya.

Bulu Sipong, katanya, diharapkan menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas.

“Perusahaan juga berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam merilis Cultural Heritage Management Plan atas situs prasejarah Bulu Sipong 4,” ujar Vita dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 5 Maret 2026.

“Dokumen tersebut berfungsi sebagai panduan pengelolaan warisan budaya yang dimiliki oleh Perusahaan, termasuk Bulu Sipong yang merupakan situs cagar budaya, sehingga dapat dikelola dengan baik secara berkelanjutan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada,” sambung Vita.

Baca juga: Awal 2026, Jumlah Investor Pasar Modal RI Melonjak Signifikan

Dalam pengelolaan situs tersebut, lanjutnya, PT Semen Tonasa juga bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX.

Kolaborasi itu, bebernya, mencakup pemantauan getaran dan kualitas udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter, dan penyiraman jalan tambang secara rutin guna mengurangi debu.

Selain itu, perusahaan juga melakukan edukasi kepada karyawan dan masyarakat mengenai pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu serta pembatasan akses melalui pagar sepanjang 1.900 meter, serta melakukan revegetasi di kawasan konservasi.

Kawasan Konservasi jadi Habitat Flora dan Fauna

Karyawan PT Semen Tonasa melakukan monitoring lukisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar hewan pada dinding Leang (Gua) Bulu Sipong 4, Pangkep, Sulawesi Selatan. (Foto: Istimewa)

Selain menyimpan seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna dengan indeks keanekaragaman hayati yang terus meningkat.

Hingga 2025, kawasan tersebut tercatat memiliki 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon. Beberapa di antaranya merupakan tanaman endemik lokal seperti eboni (diospyros celebica), kayu kuku (pericopsis mooniana), dan bitti (vitex cofassus).

Selain itu, kawasan ini juga menjadi habitat bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, dua jenis primata, serta satu jenis unggas dan satu reptil.

Total populasi satwa yang terpantau hingga 2025 mencapai 869 ekor, termasuk monyet dare (macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik lokal yang dilindungi.

Baca juga: Agresif Monetisasi Aset Properti, REAL Kembangkan Ekosistem Ini Bersama MFlash

Vita menambahkan, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menjadi pelindung bagi keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Pada 2025, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong mencatatkan nilai Indeks Kehati Flora sebesar 1,54, meningkat dari 1,38 pada 2020. Indeks Kehati Fauna juga naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51 pada 2020.

“Kenaikan nilai Indeks Kehati Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong menunjukkan lingkungan kawasan Bulu Sipong yang semakin asri dan menjadi benteng pelindung bagi kelestarian keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di dalamnya,” papar Vita.

“Atas inisiatif strategis ini, SIG dan PT Semen Tonasa mendapat apresiasi dan kehormatan sebagai narasumber pada forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 dan Indonesia Geopark Leader Forum 2025 untuk memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong serta program perlindungan Kehati,” imbuhnya. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62