Ketum Kadin: Perdagangan Indonesia-Australia Berpeluang Naik 3 Kali Lipat

Ketum Kadin: Perdagangan Indonesia-Australia Berpeluang Naik 3 Kali Lipat

Poin Penting

  • Kadin memproyeksikan perdagangan Indonesia-Australia bisa naik tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan, seiring pembaruan kerja sama CEPA.
  • Fokus kerja sama mencakup SDM, agrikultur, dan investasi MBG, termasuk pemanfaatan mahasiswa serta tenaga kerja migran Indonesia di Australia.
  • Sektor mineral kritis jadi sorotan, dengan nilai perdagangan RI-Australia pada 2024 melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 35,38 miliar dolar Australia.

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai peluang peningkatan perdagangan antara Indonesia dan Australia masih sangat terbuka. Nilai perdagangan kedua negara bahkan diproyeksikan dapat meningkat hingga tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Anin, sapaan akrab Anindya, mengungkapkan bahwa sejak penandatanganan Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) sekitar lima tahun lalu, nilai perdagangan bilateral telah meningkat hampir tiga kali lipat.

Menurutnya, perjanjian Indonesia–Australia CEPA sudah saatnya diperbarui agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan serta dinamika kerja sama yang terus berkembang.

“Saya yakin bisa naik 3 kali lagi bahkan lebih dalam waktu 5 tahun ke depan. Jadi ini suatu contoh buat kerja sama dengan tetangga bisa menghasilkan manfaat yang besar, ” kata Anin dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Baca juga: Kadin Dorong ABAC 2026 Jadi Momentum Ekspansi Perdagangan dan Investasi

Anin menjelaskan, pertemuan Kadin dengan para calon investor asal Australia membahas sejumlah isu strategis, mulai dari pemanfaatan sumber daya manusia Indonesia yang berada di Australia, termasuk sekitar 250 ribu mahasiswa serta tenaga kerja migran yang dinilai sangat dibutuhkan.

“Dan ada juga migrant workers atau tenaga kerja migran itu juga sangat dibutuhkan,” terang Anin. 

Selain itu, pembahasan turut mencakup penguatan sektor agrikultur, khususnya peluang investasi yang muncul dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Dengan ramainya program MBG, mereka mempunyai banyak sekali protein dan sayuran yang bukan hanya bisa untuk berdagang tapi juga investasi,” ujar Anin.

Mineral Kritis hingga Elektrifikasi

Ia menambahkan, sektor mineral kritis seperti tembaga, emas, dan nikel turut menjadi fokus pembahasan. Menurut Anin, produk olahan mineral kritis memiliki peran penting bagi industri elektrifikasi hingga manufaktur stainless steel.

Baca juga: BSI Gandeng Kadin Dorong UMKM Naik Kelas

“Saya rasa ini sangat positif dan Kadin sangat mendukung peluang peningkatan kerja sama antara Indonesia dengan Australia,” pungkasnya.

Diketahui, nilai total perdagangan Indonesia-Australia melonjak hampir tiga kali lipat mencapai 35,38 miliar dolar Australia atau sekitar Rp381,5 triliun pada akhir 2024.

Ekspor Indonesia meningkat signifikan, terutama pada sektor makanan, mesin, dan logam. Namun, Indonesia tercatat masih mengalami defisit perdagangan pada tahun 2025. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62