Poin Penting
- Laba Bank Sumut tumbuh 10,24 persen menjadi Rp388,28 miliar pada Semester I 2026, ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih dan efisiensi biaya dana
- Profitabilitas dan efisiensi membaik, tercermin dari NIM yang naik menjadi 6,89 persen, BOPO turun ke 76 persen, serta CIR yang merosot menjadi 48,72 persen
- Struktur pendanaan semakin kuat dengan CASA melonjak 37,77 persen dan rasio CASA mencapai 74,33 persen, meski kredit stagnan dan NPL gross naik menjadi 3,05 persen.
Jakarta – Kinerja laba Bank Sumut memuaskan hingga Juni 2026 (semester I 2026). Laba bersih bank yang dipimpin Heru Mardiansyah sebagai direktur utama ini Rp388,28 miliar, tumbuh 10,24 persen dibandingkan Rp352,20 miliar pada Juni 2025. Pertumbuhan itu menjadi sinyal bahwa Bank Sumut mampu menjaga profitabilitas di tengah pergerakan bisnis perbankan yang cukup dinamis.
Mengutip laporan keuangan publikasi Bank Sumut pada Senin (31/8), pertumbuhan laba terutama ditopang perbaikan pendapatan bunga bersih (NII). Pendapatan bunga memang turun 1,70 persen menjadi Rp2,53 triliun, tapi beban bunga berhasil ditekan jauh lebih dalam, yakni 12,75 persen menjadi Rp1,12 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih naik 9,41 persen menjadi Rp1,40 triliun dari sebelumnya Rp1,28 triliun.
Kondisi itu menunjukkan Bank Sumut makin efektif mengelola biaya dana. Penurunan beban bunga yang lebih besar dibanding penurunan pendapatan bunga membuat spread bisnis bank menjadi lebih lebar. Hal ini tercermin dari NIM yang naik dari 6,51 persen menjadi 6,89 persen, mengindikasikan bisnis inti penyaluran dana Bank Sumut berjalan makin efisien dan mampu menghasilkan laba yang lebih baik.

Di sisi lain, beban operasional lainnya meningkat 7,98 persen menjadi Rp894,45 miliar. Tapi, kenaikan biaya itu masih mampu diimbangi pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan perbaikan efisiensi secara keseluruhan. Rasio BOPO bahkan turun dari 78,13 persen menjadi 76 persen, yang berarti Bank Sumut makin efektif mengendalikan biaya operasional untuk menghasilkan pendapatan.
Efisiensi juga terlihat dari rasio CIR yang turun cukup tajam, dari 60,80 persen menjadi 48,72 persen. Semakin rendah CIR, semakin efektif manajemen mengelola biaya dibandingkan pendapatan yang dihasilkan. Kombinasi NIM yang menguat, BOPO yang turun, dan CIR yang jauh lebih rendah menjadi salah satu alasan utama laba Bank Sumut mampu tumbuh dua digit.
Baca juga: “Kiamat” BPD Sudah Dekat: Ketika Sentralisasi Gaji ASN, Tapi Pemda Kok Diam Membisu
Dari sisi fungsi intermediasi, kredit Bank Sumut relatif stabil di Rp32,15 triliun pada Juni 2026, hanya turun tipis 0,03 persen secara tahunan. Meski ekspansi kredit belum tumbuh agresif, posisi itu masih menunjukkan penyaluran dana tetap terjaga. Hanya saja, kualitas kredit perlu menjadi perhatian karena NPL gross naik dari 2,43 persen menjadi 3,05 persen, meski masih jauh di bawah batas aman 5 persen yang ditetapkan regulator.
Di sisi pendanaan, DPK turun tipis 1,45 persen menjadi Rp36,42 triliun. Tapi, struktur dana justru mengalami perubahan yang sangat positif karena giro melonjak 93,50 persen menjadi Rp14,63 triliun dan tabungan tumbuh 2,91 persen menjadi Rp12,44 triliun, sementara deposito turun 45,98 persen menjadi Rp9,35 triliun. Pergeseran ini membuat dana murah atau current account and savings account (CASA) Bank Sumut naik 37,77 persen menjadi Rp27,07 triliun.
Kenaikan dana murah membuat rasio CASA Bank Sumut melonjak dari 53,17 persen menjadi 74,33 persen. Ini menjadi salah satu perkembangan paling positif dalam struktur pendanaan karena dana murah umumnya memberikan biaya dana yang lebih rendah dibandingkan deposito. Dengan cost of fund yang lebih efisien, ruang Bank Sumut untuk menjaga margin dan meningkatkan profitabilitas menjadi semakin terbuka.
Dari sisi aset, Bank Sumut juga masih mencatat pertumbuhan meski tidak terlalu besar. Total aset naik 2,36 persen menjadi Rp46,39 triliun dari Rp45,32 triliun setahun sebelumnya. Sementara itu, modal inti meningkat 0,74 persen menjadi Rp4,42 triliun dan CAR naik dari 20,40 persen menjadi 20,98 persen, menunjukkan permodalan masih cukup kuat untuk menopang kegiatan usaha bank.
Kemampuan menghasilkan laba juga relatif terjaga. ROE naik dari 16,17 persen menjadi 16,85 persen, menunjukkan Bank Sumut makin baik dalam mengelola modal untuk menghasilkan keuntungan, sementara ROA relatif stabil di 2,03 persen dari 2,04 persen karena pertumbuhan aset sedikit lebih cepat dibanding peningkatan laba.
Baca juga: BPD Didorong Jadi Motor Ekonomi Daerah, Transformasi Digital Jadi Kunci
Kenaikan ROE menjadi poin positif dalam rentabilitas, meski pergerakan ROA menunjukkan efisiensi pemanfaatan aset masih perlu terus dijaga.
Sementara, LDR naik dari 85,38 persen menjadi 87,71 persen, tapi masih berada dalam kisaran ideal 78-92 persen. Artinya, likuiditas dan fungsi intermediasi Bank Sumut masih berada di level yang cukup sehat, dengan dana yang dihimpun tetap tersalurkan secara produktif ke kredit. (*) Ari Nugroho


