Moneter dan Fiskal

Kemenkeu Klaim Efisiensi Anggaran Sejak 2020 Hasilkan Pengelolaan APBN Lebih Baik

Jakarta – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengeklaim bahwa penerapan disiplin efisiensi anggaran berdampak positif terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Penerapan efisiensi anggaran ini dapat kami sampaikan bahwa terjadi efisiensi secara makro di dalam pengelolaan APBN pengelolaan pengelolaan penerimaan maupun pengelolaan belanja negara,” ujar Suahasil dalam Raker Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan, Senin, 14 Juli 2025.

Suahasil menjelaskan, hal tersebut tecermin dari perbandingan rasio belanja dukungan penerimaan terhadap realisasi penerimaan negara selama lima tahun terakhir yang menunjukan tren penurunan.

“Tren yang menurun tersebut menandakan bahwa efisiensi Kemenkeu yang semakin baik dalam proses menghimpun penerimaan negara,” tandasnya.

Baca juga: DPR Serahkan Keputusan Pembentukan Badan Penerimaan Negara (BPN) ke Prabowo

Berdasarkan paparannya, pada 2021, rasio belanja dukungan penerimaan terhadap realisasi mencapai 1,06 persen. Angka ini menurun menjadi 0,91 persen pada 2022, lalu kembali turun ke 0,77 persen pada 2023.

Meski sempat naik ke 0,82 persen pada 2024, rasio tersebut ditargetkan turun signifikan menjadi 0,33 persen pada 2025.

Target Penerimaan Meningkat hingga Rp3.000 Triliun

Pada saat yang sama, penerimaan negara naik dari Rp2.011,3 triliun pada 2021, kemudian naik menjadi Rp2.635,8 triliun pada 2022, dan mencapai Rp2.783,9 triliun pada 2023.

Lalu pada 2024, penerimaan negara naik lagi menjadi Rp2.850,6 triliun, dan pada 2025 ditargetkan mencapai Rp3.004,5 triliun. 

“Jadi tren penurunan efisiensi ini harusnya tidak mengganggu dari realisasi penerimaan secara administrasi,” pungkas Suahasil.

Baca juga: Sri Mulyani Proyeksi Penerimaan Pajak Meleset Rp112,4 T dari Target APBN 2025

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa realisasi penerimaan negara sangat bergantung pada kondisi ekonomi global, stabilitas sektor keuangan, ekonomi domestik, serta pergerakan harga komoditas.

Anggaran Kemenkeu terhadap APBN Turun

Selain itu, Suahasil juga menunjukkan indikator lain dari efisiensi, yakni perbandingan anggaran BA015 Kemenkeu terhadap total belanja negara dalam APBN.

Pada 2025, belanja negara mencapai Rp3.621,3 triliun, sementara anggaran Kemenkeu hanya sekitar 1,03 persen. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya, yakni 1,21 persen dari total belanja negara sebesar Rp3.359,77 triliun.

Baca juga: Tarif Trump Belum Final, Jubir Kemenko: Proses Negosiasi Bisa Melebihi Agustus 2025

Suahasil menambahkan, sebelum efisiensi diberlakukan secara luas melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, Kemenkeu telah lebih dulu menerapkan efisiensi sejak pandemi Covid-19.

Total efisiensi anggaran yang dilakukan Kemenkeu dari 2020 hingga 2024 tercatat mencapai Rp2,82 triliun. Penghematan tersebut terutama berasal dari pengendalian belanja birokrasi, seperti alat tulis kantor, souvenir, konsinyering, dan honorarium.

Budaya efisiensi ini, kata Suahasil, akan terus diperkuat melalui disiplin anggaran dan diperluas pada 2026, termasuk dalam pengendalian belanja birokrasi di berbagai lini. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KB Bank (BBKP) Balik Laba Rp66,59 Miliar di 2025, Ini Penopangnya

Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More

8 hours ago

Bank Mandiri Terbitkan Global Bond Pertama di Asia Tenggara Senilai USD750 Juta

Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More

9 hours ago

Rancangan Reformasi Pasar Modal Rampung, OJK Segera Temui Pimpinan MSCI

Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More

10 hours ago

RI Raup Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Hasil Kunjungan Prabowo

Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More

10 hours ago

AAUI: Implementasi PSAK 117 Masih jadi PR Industri Asuransi Umum

Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More

10 hours ago

OJK Denda 233 Pelaku Pasar Modal di Kuartal I 2026, Capai Rp96 Miliar

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More

10 hours ago