Poin Penting
- Kemendag mengandalkan tiga strategi untuk meningkatkan ekspor, yakni memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing eksportir, dan diversifikasi pasar serta produk.
- Pemerintah memperkuat promosi dagang dan mengoptimalkan 25 perjanjian perdagangan internasional serta 46 perwakilan dagang di luar negeri.
- Nilai ekspor Indonesia pada Januari-Mei 2026 tumbuh 3,02 persen menjadi 115,36 miliar dolar AS meski kinerja Mei mengalami penurunan secara bulanan.
Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan tiga strategi utama untuk mendongkrak ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Langkah ini ditempuh untuk menjaga kontribusi perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi mengatakan strategi tersebut mencakup perluasan akses pasar, peningkatan daya saing eksportir, dan diversifikasi pasar dan produk.
Menurutnya, ketiga langkah itu menjadi fokus utama pemerintah dalam memperkuat kinerja perdagangan luar negeri.
“Strategi Kementerian Perdagangan berfokus pada tiga aspek utama,” ujar Puntodewi dikutip Antara, Rabu, 8 Juli 2026.
Baca juga: Indonesia Negosiasi Harga Ekspor Listrik ke Singapura
Perluasan Akses Pasar Jadi Strategi Ekspor Utama
Strategi pertama ditempuh melalui perluasan akses ekspor dengan mempercepat penyelesaian dan pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Kebijakan ini bertujuan membuka pasar baru sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia melalui tarif yang lebih kompetitif.
Saat ini Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang internasional.
Beberapa di antaranya meliputi Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA), ASEAN Free Trade Area (AFTA), Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Uni Eropa CEPA, Indonesia-Peru CEPA.
Perjanjian dagang lainnya yaitu Indonesia-Gulf Cooperation Council Free Trade Agreement (Indonesia GCC FTA), Indonesia-Korea CEPA, Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), hingga ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA).
Daya Saing Eksportir dan Diversifikasi Pasar Diperkuat
Strategi kedua difokuskan pada peningkatan daya saing eksportir, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan, business matching, promosi dagang, serta penguatan kapasitas pelaku usaha agar memenuhi standar pasar internasional.
Strategi ketiga diarahkan pada diversifikasi pasar dan produk. Langkah ini dilakukan agar ekspor Indonesia tidak bergantung pada pasar maupun komoditas tertentu.
Menurut Puntodewi, implementasi ketiga strategi tersebut diharapkan mampu menjadikan ekspor sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebijakan itu juga ditargetkan mendorong penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan devisa negara.
Baca juga: Ekspor Indonesia Capai USD92,15 Miliar hingga April 2026, Naik 5,48 Persen
Kemendag Perluas Promosi dan Bidik Pasar Baru
Kemendag juga menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjaga kinerja perdagangan luar negeri.
Salah satunya ialah mempercepat penyelesaian perjanjian dagang dengan negara mitra strategis sekaligus mengoptimalkan implementasi kerja sama yang telah berlaku.
Selain itu, promosi dagang diperkuat melalui pameran internasional, misi dagang, business matching, dan pemanfaatan platform digital.
Upaya tersebut didukung oleh 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara.
Pemerintah juga memperluas jangkauan pasar ke kawasan dengan prospek pertumbuhan tinggi, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, China, Jerman, Jepang, dan Filipina.
“Kemendag terus memberikan informasi intelijen pasar dan pendampingan kepada pelaku usaha agar mampu merespons perubahan permintaan pasar global secara cepat,” kata Puntodewi.
Baca juga: Ini Jurus Kemendag agar Produk UMKM Perempuan RI Laris di Pasar Dunia
Berdasarkan data Kemendag, nilai ekspor pada Mei 2026 mencapai 23,20 miliar dolar AS. Angka tersebut turun 8,30 persen dibanding April 2026 dan melemah 5,73 persen dibanding Mei 2025.
Penurunan bulanan dipicu oleh turunnya ekspor migas sebesar 34,38 persen dan ekspor nonmigas sebesar 7,05 persen.
Meski demikian, secara kumulatif Januari-Mei 2026 nilainya mencapai 115,36 miliar dolar AS atau tumbuh 3,02 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang naik 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor migas tercatat 5,17 miliar dolar AS atau turun 12,71 persen. (*)


