Poin Penting
- Yum Brands menjual Pizza Hut senilai USD2,7 miliar kepada LongRange Capital dan Yum China
- Kinerja Pizza Hut terus melemah, dengan penjualan global turun 2 persen pada 2025
- Yum Brands kini fokus mengembangkan KFC dan Taco Bell yang mencatat pertumbuhan lebih kuat.
Jakarta – Raksasa restoran cepat saji asal Amerika Serikat (AS), Pizza Hut, resmi berpindah tangan setelah perusahaan induknya, Yum Brands, menyepakati penjualan jaringan restoran pizza tersebut senilai USD2,7 miliar atau sekitar Rp48,07 triliun (kurs Rp17.805 per dolar AS).
Mengutip abcnews, dalam transaksi tersebut, perusahaan investasi swasta LongRange Capital akan mengakuisisi bisnis Pizza Hut dengan nilai sekitar USD1,5 miliar. Sementara itu, bisnis Pizza Hut di China akan diambil alih oleh Yum China Holdings Inc. senilai USD1,2 miliar.
Langkah divestasi ini menandai berakhirnya kepemilikan Yum Brands atas salah satu merek restoran paling ikonik di dunia setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan kinerja dan persaingan yang semakin ketat di industri makanan cepat saji.
Pizza Hut menjadi satu-satunya merek utama dalam portofolio Yum Brands yang mencatat penurunan penjualan global pada tahun lalu. Saat penjualan global Yum Brands tumbuh 5 persen, penjualan Pizza Hut justru turun 2 persen.
Baca juga: Duh! Pizza Hut Indonesia Tutup 20 Gerai dan PHK 371 Karyawan
Sebelumnya, Yum Brands telah mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk Pizza Hut sejak November tahun lalu.
Pada Februari 2026, perusahaan juga mengumumkan rencana penutupan 250 gerai Pizza Hut di AS sebagai bagian dari upaya efisiensi bisnis.
Managing Director GlobalData, Neil Saunders, menilai Pizza Hut telah lama menjadi titik lemah dalam portofolio Yum Brands. Menurutnya, upaya revitalisasi merek dan penutupan gerai berkinerja rendah belum mampu mengembalikan bisnis ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Untuk mengembalikan Pizza Hut ke fase pertumbuhan dibutuhkan investasi besar dan kesabaran jangka panjang yang tampaknya tidak lagi menjadi prioritas Yum,” ujar Saunders.
Di tengah perubahan perilaku konsumen, Pizza Hut juga menghadapi tantangan dari berkembangnya layanan pesan antar berbasis aplikasi seperti DoorDash dan Uber Eats yang menawarkan lebih banyak pilihan makanan kepada pelanggan.
Data Technomic menunjukkan penjualan pizza di AS melambat pascapandemi. Pada 2025, penjualan industri pizza turun kurang dari 1 persen, sementara penjualan Pizza Hut di pasar AS anjlok 8,2 persen.
Sementara, CEO Yum Brands Chris Turner mengatakan pelepasan Pizza Hut akan memungkinkan perusahaan lebih fokus mengembangkan merek-merek yang memiliki pertumbuhan lebih kuat, termasuk KFC dan Taco Bell.
Menurut Turner, kepemilikan baru di bawah LongRange Capital dan Yum China diyakini dapat membuka peluang pertumbuhan baru bagi Pizza Hut melalui pengalaman operasional dan investasi yang lebih terfokus pada sektor restoran.
Baca juga: Kebutuhan Bisnis Perusahaan Makin Beragam, Synology Siap Boyong Solusi Ini ke Pasar RI
Sebagai informasi, Pizza Hut didirikan pada 1958 di Wichita, Kansas, AS. Hingga akhir 2025, jaringan restoran tersebut memiliki 19.974 gerai di seluruh dunia dan tetap menjadi salah satu merek pizza terbesar secara global.
Yum Brands memperkirakan proses penjualan Pizza Hut di AS dan China akan rampung pada kuartal III-2026. Sentimen positif atas transaksi tersebut turut mendorong saham Yum Brands menguat hampir 2 persen pada perdagangan terakhir. (*)


