Poin Penting
- Surplus perdagangan meningkat signifikan pada Maret 2026 dan mencatat tren positif berkelanjutan.
- Investasi tumbuh dan mulai menyebar ke berbagai daerah, tidak hanya terpusat di wilayah besar.
- Penguatan investasi ditopang hilirisasi, belanja pemerintah, dan peningkatan impor barang modal.
Jakarta – Kinerja neraca perdagangan dan investasi Indonesia menunjukkan perbaikan pada awal 2026. Kondisi ini sejalan dengan terbukanya pasar ekspor pasar baru dan melonjaknya aliran modal ke daerah.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, perbaikan kinerja ekonomi nasional tidak hanya ditopang belanja pemerintah dan konsumsi domestik, tetapi juga ditopang ekspansi pasar ekspor serta pemerataan investasi.
“Belakangan ini, kita berhasil membuka pasar ekspor baru. Walaupun baru mulai, sudah terlihat dampaknya, termasuk terhadap investasi yang masuk,” ujar Anin, dalam keterangannya, dikutip Rabu, 6 Mei 2026.
Anin menilai, investasi yang berkembang saat ini tidak hanya berskala besar, tetapi juga mulai menyasar sektor dan wilayah yang lebih luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat optimisme tersebut. Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 1,27 miliar dolar AS.
Baca juga: Kadin: Program Perumahan Massal Bisa Dongkrak PDB hingga 1,5 Persen
Surplus tersebut ditopang ekspor sebesar 22,53 miliar dolar AS dan impor 19,21 miliar dolar AS. Capaian ini memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Secara kumulatif, surplus perdagangan hingga Maret 2026 mencapai 5,55 miliar dolar AS. Meski ekspor secara tahunan turun 3,1 persen (yoy), struktur impor menunjukkan sinyal positif bagi aktivitas ekonomi.
Impor barang modal tumbuh 4,98 persen dan bahan baku penolong naik 2,15 persen, menandakan peningkatan aktivitas produksi dan investasi domestik. Sementara itu, impor barang konsumsi turun 10,81 persen, mencerminkan pergeseran menuju sektor produktif.
Baca juga: Kadin Nilai Ekonomi RI Tetap Tangguh, Dorong Reindustrialisasi dan Industri Padat Karya
Dari sisi investasi, Anin menyebut, realisasi penanaman modal pada triwulan I-2026 mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen (yoy), setara 24,4 persen dari target tahunan Rp2.041,3 triliun.
Sektor hilirisasi masih menjadi motor utama dengan kontribusi Rp147,5 triliun, memperkuat struktur ekonomi nasional.
Anindya menilai tantangan ke depan adalah memastikan investasi terus mengalir ke daerah melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat, tetapi lebih merata.
“Pertumbuhan ekonomi harus juga terjadi di daerah,” katanya.
Dana ke Daerah
Ke depan, Anin menilai dana transfer ke daerah yang sempat dipangkas perlu ditingkatkan secara bertahap. Pemerintah daerah yang berkinerja baik juga perlu diberi insentif berupa peningkatan alokasi dana.
Dana transfer dinilai penting dalam menggerakkan ekonomi daerah, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026
Seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (5/5/2026) pagi, belanja pemerintah yang melesat 21,81 persen dan investasi yang melaju 5,96 persen mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2026 hingga 5,61 persen, jauh di atas perkiraan berbagai pengamat dan lembaga ekonomi, dalam dan luar negeri.
Konsumsi rumah tangga bertumbuh moderat di level 5,52 persen. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.447,7 triliun pada kuartal I-2026.
Struktur pertumbuhan menegaskan dominasi permintaan domestik di tengah lemahnya sektor eksternal, dengan ekspor bertumbuh 0,90 persen yoy dan impor naik 7,18 persen yoy.
Dari sisi lapangan usaha, sektor jasa menjadi motor utama, terutama akomodasi dan makan minum (13,14 persen), transportasi (8,04 persen), serta informasi dan komunikasi (7,14 persen), sementara industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar PDB sekitar 19 persen.
Secara geografis, pertumbuhan masih didominasi Pulau Jawa yang menyumbang lebih dari separuh PDB, meski kawasan Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi mencatat pertumbuhan lebih tinggi.
Secara keseluruhan, capaian ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia di awal 2026, dengan belanja pemerintah dan investasi menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. (*)
Editor: Yulian Saputra


