Poin Penting
- Kadin mendorong percepatan implementasi FTA Indonesia–Eurasian Economic Union untuk menggandakan nilai perdagangan dalam 3 tahun dari sekitar USD5 miliar saat ini.
- Tiga sektor utama pendorong perdagangan: komoditas pangan, energi dan hilirisasi mineral, serta industri padat karya (tekstil dan elektronik)
- Tantangan utama meliputi sistem pembayaran lintas negara dan infrastruktur logistik; solusi diarahkan pada pemanfaatan fintech (blockchain, aset digital) dan penguatan rantai pasok.
Jakarta — Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mendorong percepatan implementasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan negara-negara Eurasian Economic Union (EAEU) yang telah ditandatangani pada akhir 2025.
Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua kawasan hingga dua kali lipat dalam tiga tahun ke depan.
Dorongan tersebut disampaikan dalam forum Russia-Indonesia Workshop on (EAEU)-Indonesia Free Trade Agreement (FTA).
Kegiatan ini juga menghadirkan Deputy Minister of Economic Development of the Russian Federation, Vladimir Ilichev.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin, Pahala Mansury, mengatakan perjanjian tersebut membuka peluang besar bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas pasar.
Baca juga: Kadin Nilai Ekonomi RI Tetap Tangguh, Dorong Reindustrialisasi dan Industri Padat Karya
“Perdagangan Indonesia dengan negara-negara EAEU saat ini sekitar USD5 miliar. Dengan pengurangan tarif dan hambatan non-tarif, kami berharap nilainya bisa meningkat hingga dua kali lipat dalam tiga tahun,” kata Pahala dikutip 15 April 2026.
Menurut dia, terdapat tiga sektor utama yang berpotensi menjadi motor peningkatan perdagangan, yakni komoditas pangan, energi dan hilirisasi mineral, serta industri padat karya seperti tekstil dan elektronik.
Namun, Pahala mengakui implementasi perjanjian tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait sistem pembayaran lintas negara dan infrastruktur keuangan. Ia menyebut teknologi finansial dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi hambatan tersebut.
“Fintech seperti blockchain, aset digital, dan kripto bisa menjadi alternatif untuk menjembatani kendala pembayaran,” ujarnya.
Selain itu, penguatan rantai pasok juga dinilai menjadi pekerjaan rumah. Infrastruktur logistik, pengiriman, dan penyimpanan perlu ditingkatkan agar potensi perdagangan dapat terealisasi secara optimal.
Baca juga: Kadin: Program Perumahan Massal Bisa Dongkrak PDB hingga 1,5 Persen
Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono, menilai posisi Indonesia dalam perdagangan dengan EAEU masih perlu ditingkatkan.
“Indonesia saat ini berada pada posisi ketiga mitra dagang terbesar EAEU di ASEAN,” kata dia.
Dari sisi investasi, Indonesia juga disebut masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Vietnam dalam menarik aliran modal dari kawasan tersebut.
Meski demikian, Djatmiko menilai FTA Indonesia–EAEU merupakan platform strategis untuk memperkuat kemitraan ekonomi kedua kawasan, didukung oleh pasar domestik Indonesia yang besar dan pertumbuhan kelas menengah.
“Ke depan, Indonesia siap memperdalam kerja sama dengan EAEU untuk menjadi mitra strategis utama di ASEAN,” ujarnya. (*)
Editor: Galih Pratama







