Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mirza Adityaswara
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya prinsip transparansi di tengah fenomena bias algoritma. Pasalnya, bias algoritma berpotensi bisa menyebabkan penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan pembiayaan di industri jasa keuangan.
“Karena warna kulit tertentu, karena bahasa tertentu dan lain-lain, kemudian oleh algoritma-nya dianggap tidak layak untuk dapat pembiayaan. Makanya algoritma bias bisa membuat financial exclusion,” kata Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, dalam acara The 3rd OJK International Research Forum 2025, Selasa, 7 Oktober 2025.
Oleh karena itu, kata Mirza, teknologi kecerdasan buatan (articial intelligence/AI) yang kian masif harus disertai dengan mekanisme pengujian, evaluasi, dan audit yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memastikan tidak adanya bias data maupun penyalahgunaan sistem otomasi.
Baca juga : OJK dan Bappebti Lanjutkan Tugas Pengawasan Derivatif Keuangan
Saat ini, menurut Mirza, penerapan kecerdasan buatan sendiri telah diimplementasikan di internal OJK melalui pengembangan OJK Substate Integrated Data Analytics (OSIDA).
“Tentu ini adalah suatu sistem yang harus terus menerus di-upgrade karena perkembangan teknologi juga semakin cepat,” jelasya.
Ia menjelaskan, OSIDA merupakan sebuah platform analitik terpadu yang dirancang untuk memperkuat fungsi pengawasan berbasis data.
Melalui platform ini, OJK menggunakan AI untuk melakukan analisis anomali dan deteksi dini terhadap risiko di lembaga jasa keuangan.
Baca juga : Transformasi Sistem Keuangan RI oleh AI dan Blockchain, OJK Dorong Regulasi Ketat
“Sistem ini mampu memproses jutaan data pelaporan dari berbagai sektor secara otomatis, mengidentidikasi pola yang tidak wajar serta memberikan early warning signal kepada pengawas,” jelasnya.
Tak sampai di situ, lanjut Mirza, dalam jangka panjang OJK telah mengembangkan Blueprint Critical Substance dalam rangka menerapkan AI di bidang pengawasan secara tepat.
“Degan penerapan solusi AI tepat dapat membuat kebijakan besar, meningkatkan aktivitas pengawasan secara cepat, memberikan ruang bagi pengawas untuk fokus pada posisi yang menggunaka judgement pengawas,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group EKONOMI politik perbankan Indonesia sedang sakit.… Read More
Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More