Moneter dan Fiskal

Jor-Joran Utang, Pengelolaan Fiskal Dinilai Masih Keropos

Jakarta – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J. Rachbini menilai, pengelolaan fiskal Pemerintahan saat ini masih dalam performa yang tidak maksimal dengan pengelolaan yang secara terus menerus menarik utang.

“Politik ekonomi Fiskal di Pemerintahan dan Parlemen lebih mengikuti naluri empire builders motive, kacau. Hasilnya keropos pada sisi pengeluaran dan penerimaan,” kata Didik pada acara Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2018 “Ekonomi Pasca Pilkada” di Gedung SMESCO Jakarta, Selasa 31 Juli 2018.

Didik menambahkan, Pemerintahan Jokowi saat ini sangat jor-joran menarik utang dengan tidak mementingkan efek jangka panjang yang akan datang. Tak hanya itu, Didik juga menyebut, statistik hutang yang semakin tinggi lebih disalurkan ke pada sektor belanja negara salahsatunya belanja pegawai.

“Saya ingin mengatakan, pengeluaran APBN itu sejelek-jeleknya sekarang. Sekarang, hutang makin besar itu adalah yang paling besar membayar gaji pegawai, membangun gedung pemerintah,” jelas Didik.

Baca juga: Wamenkeu Minta Perhatikan Piutang Pemerintah Yang Tak Tertagih

Lebih lanjut, apabila melihat postur anggaran selama 2012-2017 terjadi perubahan signifikan yaitu penurunan subsidi. Sementara peningkatan belanja modal meroket akibat suntikan utang. Menurut data Kementerian Keuangan, tercatat selama 2012-2017 porsi belanja pegawai meningkat dari 18,58 persen menjadi 26,25 persen.

Sementara pada angka utang, Kementerian Keuangan telah merilis data total utang pemerintah pusat hingga Juni 2018 tercatat mencapai Rp4.227,78 triliun. Angka ini tumbuh 14,06% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari laporan APBN 2018 hingga bulan Juni pinjaman mencapai Rp 785,13 triliun, tumbuh 7,99% yoy. Terdiri dari  pinjaman luar negeri sebesar Rp 779,81 triliun atau tumbuh 8,03% yoy. Sedangkan pinjaman dalam negeri tercatat Rp 5,33 triliun, tumbuh 2,82% yoy.

Sementara, untuk utang dari Surat Berharga Negara (SBN) tercatat Rp3.442,64 triliun atau tumbuh 15,54% yoy. Terdiri dari denominasi rupiah mencapai Rp2.419,67 triliun, meningkat 10,62% yoy. Kemudian untuk utang denominasi valas mencapai Rp1.022,91 triliun atau tumbuh 29,15%. (*)

Suheriadi

Recent Posts

RUPST OCBC Sepakat Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Buyback 438 Ribu Saham

Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More

1 hour ago

Konflik AS-Iran Tekan Biaya Logistik, ALFI Minta Regulasi KBLI Dievaluasi

Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More

2 hours ago

Bos BTN Laporkan Penurunan NPL Konstruksi di Bawah 10 Persen

Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More

3 hours ago

IHSG Berbalik Ditutup Menguat 0,39 Persen, Mayoritas Sektor Hijau

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,39% ke level 7.307,58 pada perdagangan 9 April 2026. Mayoritas… Read More

3 hours ago

Purbaya Ungkap Pengadaan Motor Listrik untuk SPPG Sempat Lolos Meski Ditolak

Poin Penting Menkeu Purbaya akui miskomunikasi, sebagian pengadaan motor listrik untuk SPPG ternyata sempat disetujui.… Read More

3 hours ago

Tak Perlu Ribet Tukar Uang, Belanja di Korea Selatan Kini Cukup Scan QR Livin’ by Mandiri

Poin Penting Livin’ by Mandiri hadirkan QR antarnegara di Korea Selatan, memungkinkan transaksi QRIS tanpa… Read More

4 hours ago