Poin Penting
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk gelar AKJJ 2026 untuk memperkuat kolaborasi dengan media berbasis data dan fakta lapangan.
- AKJJ 2026 mengangkat tema 18 tahun JAPFA for Kids dengan fokus pada isu gizi anak dan data lapangan.
- Ajang ini mendorong jurnalisme yang lebih akurat, kontekstual, dan berdampak bagi publik.
Jakarta – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang kini memasuki penyelenggaraan ketiga.
Ajang ini menjadi forum kolaborasi antara perusahaan dan insan media dalam mengangkat isu-isu strategis terkait kualitas generasi muda melalui pendekatan data, fakta, dan peliputan lapangan.
Kegiatan yang diawali dengan media gathering di Jakarta tersebut sekaligus menandai dibukanya kompetisi AKJJ 2026 dengan tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.
Tema tersebut menyoroti perjalanan panjang inisiatif tersebut dalam mengumpulkan dan mengolah data terkait kondisi gizi anak di berbagai daerah di Indonesia.
Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya menyebut, AKJJ menjadi ruang untuk memperkuat peran media dalam menyajikan informasi yang berbasis data dan berdampak luas bagi publik.
Baca juga: Laba Japfa Tembus Rp4 Triliun di 2025, Efisiensi dan Inovasi jadi Kunci
“Melalui AKJJ, kami ingin memperkuat kolaborasi dengan media untuk menghadirkan informasi yang akurat, kontekstual, dan mendorong kesadaran publik terhadap isu-isu penting terkait generasi penerus bangsa,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, 12 Mei 2026.
Dalam forum tersebut juga dipaparkan berbagai temuan lapangan terkait kondisi gizi anak di Indonesia yang masih menunjukkan adanya tantangan.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk. Sementara data internal di sejumlah lokasi program pada 2025 menunjukkan 6,6 persen siswa masih menghadapi kondisi serupa.
Selain sebagai kompetisi jurnalistik, AKJJ juga menjadi wadah pertukaran pandangan antara pelaku media, akademisi, dan praktisi kesehatan.
Sejumlah juri yang terlibat menekankan pentingnya jurnalisme berbasis data, kekuatan visual, serta edukasi publik dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap isu-isu sosial.
Salah satunya adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir menilai jurnalisme memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik melalui penyajian data yang kuat dan narasi yang relevan.
Sementara fotografer jurnalistik Beawiharta menekankan pentingnya visual dalam memperkuat pesan sosial di lapangan.
Baca juga: Ayam Olagud dari Japfa Kini Jadi Hidangan untuk Penumpang Garuda Indonesia
Dari sisi akademisi, pakar gizi masyarakat Universitas Indonesia Prof. drg. Sandra Fikawati menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat literasi publik terkait gizi seimbang dan pola hidup sehat.
Melalui AKJJ 2026, JAPFA berharap lahir karya-karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu memperkaya perspektif publik serta memperkuat peran media sebagai jembatan antara data, fakta, dan realitas lapangan. (*)


