Poin Penting
- IHSG menguat 1,27 persen ke level 8.859 didorong January Effect, inflow asing Rp1,13 triliun, serta data inflasi yang positif.
- January Effect 2026 bersifat selektif, menyasar saham berkapitalisasi besar dan menengah dengan fundamental kuat.
- Sektor keuangan, infrastruktur, dan emas berpeluang menjadi penopang utama pergerakan IHSG.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (5/1) ditutup menguat 1,27 persen ke level 8.859,19. Penguatan indeks didorong oleh kenaikan saham-saham sektor bahan baku dan sektor energi.
Berdasarkan hasil riset Reliance Sekuritas Indonesia, sentimen positif itu juga didorong oleh katalis January Effect hingga akumulasi investor asing yang saat ini tercatat inflow senilai Rp1,13 triliun.
“Serta rilis data inflasi yang positif, di mana Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64 persen mtm dan 2,92 persen yoy,” tulis tim riset Reliance Sekuritas, Selasa, 6 Januari 2026.
Baca juga: IHSG Cetak Rekor ATH Baru, Dibuka Perkasa ke Level 8.887
Reliance juga memproyeksi IHSG masih akan bergerak di kisaran support pada level 8.672 dan resistance pada level 8.797 dengan kecenderungan menguat.
Di samping itu, Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, juga menyebut January Effect masih berpeluang menjadi katalis psikologis bagi pergerakan indeks, meskipun dampaknya cenderung tidak sekuat masa lalu.
“January Effect di 2026 lebih mungkin bersifat sektoral dan selektif, bukan mengangkat pasar secara menyeluruh,” ujarHendra dalam keterangannya.
Baca juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Ini Pendorongnya
Hendra menjelaskan, saham-saham yang berpeluang mendapatkan dampak January Effect umumnya merupakan saham berkapitalisasi besar dan menengah dengan likuiditas tinggi serta didukung fundamental yang solid.
“Saham perbankan utama, saham konsumsi defensif, hingga saham berbasis komoditas emas berpeluang mendapat aliran dana jangka pendek,” imbuhnya.
Sektor Keuangan dan Emas
Meski demikian, menurut Hendra, pola January Effect pada 2026 tidak lagi sekadar berburu saham lapis dua secara acak, melainkan lebih mengarah pada saham yang memiliki katalis jelas dan valuasi yang masih rasional.
Adapun sektor keuangan berpeluang menjadi penopang utama, terutama perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo yang diuntungkan dari stabilnya suku bunga domestik dan ekspektasi pertumbuhan kredit.
Baca juga: Tancap Gas! IHSG Cetak Rekor Tertinggi Lagi ke Level 8.804
Lalu sektor infrastruktur dan konstruksi juga berpotensi mendapat perhatian seiring dimulainya kembali realisasi belanja pemerintah pada awal tahun.
Sementara itu, sektor komoditas tertentu, khususnya emas, kembali dilirik sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. (*)
Editor: Yulian Saputra










