Sementara Liky Sutikno yang mewakili pengusaha asal Tiongkok memaparkan kondisi para penguasaha asal Negeri Tirai Bambu tersebut yang menurutnya kini tengah menanti situasi kondusif di Indonesia, kata Liky Indonesia menjadi Negara teratas untuk tujuan investasi mereka namun saat ini mereka menahan laju investasi meskipun sudah ada yang masuk.
“Jadi investor itu sedang wait and see, mereka menempatkan Indonesia top of list, tapi takut modalnya enggak bisa keluar. Sementara pemerintah China sendiri butuh Indonesia sebagai bargaining power tapi kalau satu, dua tahun ini mereka sudah dapat dukungan dari negara lain yah kita akan ditinggalkan,” kata Liky.
(Baca juga: Pengusaha AS Apresiasi Perbaikan Iklim Investasi Indonesia)
Terkait modal yang saat ini sudah terlanjur masuk Liky mengungkapkan dana pengusaha asal Tiongkok sebenarnya tetap datang tapi untuk amannya mereka melalui Singapura. Sebab Indonesia adalah pasar yang tetap menggiurkan.
“Mereka tuh kadang lebih tahu (keadaan) Indonesia daripada saya. Sama dengan kita dapat kabar buruk dari China yah tentu ngapain ambil risiko investasi. Modal dana masuk kini terbesar dari Singapura tapi kalau ditarik ke belakang yah dari China juga. Beda dengan Jepang yang berani karena sudah pengalaman di Indonesia,” tambah pengusaha konstruksi ini. (*) Akhmad Dani
Page: 1 2
Poin Penting OJK mencatat jumlah polis asuransi kesehatan mencapai sekitar 21 juta, sebagai bagian dari… Read More
Poin Penting OJK menyoroti indikasi proyek fiktif di fintech lending dan menegaskan praktik fraud akan… Read More
Poin Penting Risiko banjir dan bencana meningkat, mendorong pentingnya proteksi aset sejak dini melalui asuransi… Read More
Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More
Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More
Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More