Poin Penting
- Investor berpengalaman melihat penurunan harga aset kripto sebagai kesempatan membeli aset undervalued, terutama Bitcoin.
- Pilih aset dengan fundamental kuat, gunakan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA), dan hindari kepanikan saat harga turun.
- Gunakan waktu bear market untuk belajar analisis pasar, serta pertimbangkan short selling untuk mendapatkan keuntungan dari penurunan harga.
Jakarta – Investor tentu harus terbiasa menghadapi pasar yang naik turun. Tidak terkecuali para investor kripto. Tapi, fase bear market, di mana harga aset mengalami penurunan signifikan dalam periode cukup panjang bisa menimbulkan kepanikan.
Namun, bagi para investor berpengalaman, fase bear market kerap dinilai sebagai saat yang tepat untuk akumulasi. Dilansir dari Pintu Academy, bear market adalah fase penurunan harga yang tidak bisa dihindari dalam siklus pasar kripto.
Beda halnya dengan koreksi jangka pendek, bear market umumnya berlangsung berbulan-bulan hingga lebih dari setahun dan disertai sentimen negatif yang meluas.
Alih-alih panik, para investor berpengalaman justru menjadikan fase ini sebagai kesempatan untuk kemudian mendulang cuan.
Baca juga: Volume Trading Tokenisasi Aset di PINTU Meningkat, 3 Aset Ini Paling Diminati
Siklus Bear Market Aset Kripto
Untuk pasar kripto, secara historis memiliki siklus 4 tahunan. Siklus ini kerat kaitannya dengan terjadinya fase bull maupun bear market. Siklus ini berpusat pada peristiwa bitcoin halving, berkurangnya reward yang diterima penambang Bitcoin sebesar 50 persen setiap empat tahun sekali.
All time high (ATH) baru cenderung terbentuk sekitar 2 hingga 3 tahun setelah Bitcoin mencapai bottom siklus sebelumnya. Di rentang periode tersebut, biasanya paspar mengalami fase akumulasi atau pergerakan sideways yang sering dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi.
5 Strategi Wajib di Bear Market
Tim Pintu Academy mengungkap 5 strategi yang relevan diterapkan ketika menghadapi bear market.
Pertama, sabar dalam menentukan aset dan target harga beli. Ketika harga turun lebih dari 20 persen, banyak investor yang baru masuk kripto langsung mengalami kepanikan dan memilih menjual aset mereka.
Sementara, investor yang telah berpengalaman melewati beberapa fase bear market seringkali mempunyai cara pandang berbeda. Mereka melihat bear market sebagai fase di mana aset-aset undervalue dapat diakumulasi.
Baca juga: Muhammadiyah Keluarkan Fatwa soal Kripto, Begini Tanggapan Aplikasi PINTU
Di tengah kondisi sepeti ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Buatlah watchlist aset yang diyakini fundamentalnya. Lihat bagaimana respon pergerakan harganya menyikapi penurunan harga Bitcoin. Aset yang mampu bertahan relatif lebih baik dibanding Bitcoin saat pasar melemah biasanya merupakan kandidat akumulasi yang menarik.
Selanjutnya, tetapkan target harga beli berdasarkan analisis yang sudah dibuat. Salah satu pendekatannya adalah mengidentifikasi area support historis sebagai zona pembelian aset. Ini membuat keputusan beli sudah terencana sebelum harga benar-benar sampai di sana.
Kedua, proteksi modal. Menjaga modal tidak tergerus menjadi prioritas utama di bear market. Strategi yang terbukti paling efektif untuk investasi jangka panjang adalah Dollar-Cost Averaging atau DCA.
Ketiga, fokus pada fundamental aset. Bear market kerap mengekspos kelemahan proyek-proyek kripto tanpa fundamental kuat. Banyak token yang tampak menjanjikan saat fase bull market. Tapi nyatanya hanya didorong sentimen dan spekulasi, sehingga ketika memasuki bear market, harganya tidak pernah benar-benar pulih.
Bear market bukan hanya menjadi fase seleksi bagi investor yang memiliki ketahanan mental dan disiplin yang tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai seleksi alam bagi proyek-proyek kripto.
Itulah kenapa di bear market, Bitcoin secara historis menjadi prioritas utama akumulasi bagi investor. Sebagai aset dengan likuiditas tertinggi, adopsi institusional terbesar, dan rekam jejak pemulihan yang sudah terbukti di setiap siklus, Bitcoin adalah aset yang paling terbukti bisa keluar dari bear market dan mencetak ATH baru.
Keempat, pertajam skill dan analisis. Jika bull market adalah fase untuk “memanen” hasil akumulasi sebelumnya, bear market adalah momentum ideal untuk membangun keterampilan dan memperdalam analisis. Fase ini memberikan ruang untuk belajar tanpa tekanan euforia pasar.
Trader atau investor yang memasuki bull market berikutnya dengan pemahaman yang lebih matang tentang dinamika pasar cenderung mampu mengambil keputusan yang lebih rasional, terukur, dan disiplin dibandingkan sebelumnya. Analisis teknikal maupun fundamental menjadi hal yang penting dipelajari.
Kelima, short selling. Pada kondisi bear market, ada strategi yang memungkinkan trader yang tetap berpotensi menghasilkan keuntungan meski harga sedang turun, yaitu short selling.
Baca juga: Sasar Trader Elite, Simak Syarat dan Benefit Program PINTU VIP
Berbeda dengan proses beli dan jual di pasar spot, short selling adalah aktivitas trading yang dapat melibatkan leverage dan membuka posisi jual terhadap kontrak Futures. Aritnya, saat harga turun, investor atau trader bisa mendapatkan keuntungan.
Strategi short selling paling efektif digunakan dalam dua kondisi. Pertama, saat tren turun sudah terkonfimasi secara teknikal. Kedua, ketika ada relief rally, yaitu kenaikan harga sementara di tengah bear market yang bisa dimanfaatkan sebagai titik masuk posisi short sebelum harga kembali melanjutkan penurunan. (*) Ari Astriawan










