Poin Penting:
- Realisasi investasi triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun atau 24,4 persen dari target investasi tahun ini.
- PMA dan PMDN hampir seimbang, tetapi hilirisasi tetap menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan.
- Pemerintah optimistis target Rp2.041 triliun dapat tercapai berkat stabilitas makro dan minat investor yang solid.
Jakarta – Realisasi investasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun, atau 24,4 persen dari target tahunan Rp2.041,3 triliun. Meski hanya seperempat dari target, capaian kuartal pertama ini tetap menunjukkan pertumbuhan 7,2 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Capaian ini dirilis dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan I 2026 dan Implementasi KBLI 2025 di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa realisasi tersebut dicapai di tengah tekanan geopolitik dunia. “Target investasi pada triwulan pertama 2026 alhamdulillah tercapai dan melebihi sedikit,” ujarnya.
Baca juga: Lampaui Target, Realisasi Investasi Kuartal I 2026 Tembus Rp498,79 Triliun
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menggarisbawahi peran investasi sebagai salah satu pengungkit utama ekonomi nasional.
Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang diprediksi dapat mencapai 5,5 persen, pemerintah menempatkan faktor penopang seperti konsumsi rumah tangga, belanja fiskal Rp809 triliun, serta stabilitas makro sebagai kunci menjaga momentum sepanjang 2026.
Distribusi Realisasi Investasi dan Penguatan Hilirisasi
Realisasi investasi triwulan pertama terbagi relatif seimbang antara penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMA tercatat Rp250 triliun atau 50,1 persen, sedikit lebih tinggi daripada PMDN yang mencapai Rp248,8 triliun. PMA tumbuh 8,5 persen, sementara PMDN naik 6 persen.
Secara geografis, investasi di luar Jawa kembali mendominasi dengan Rp251,3 triliun, hanya terpaut tipis dari Jawa sebesar Rp247,5 triliun. BKPM mencatat lima provinsi dengan kontribusi tertinggi: Jakarta (Rp78,7 triliun), Jawa Barat (Rp76,8 triliun), Banten (Rp34,4 triliun), Jawa Timur (Rp32,6 triliun), dan Sulawesi Tengah (Rp32,1 triliun).
Dari sisi sektor, industri logam dasar—terutama smelter—mendominasi dengan Rp69,4 triliun. Disusul jasa lainnya (Rp64,2 triliun), pertambangan (Rp51,9 triliun), perumahan-kawasan industri-perkantoran (Rp48 triliun), serta transportasi-gudang-telekomunikasi (Rp45,4 triliun).
Hilirisasi menjadi faktor penopang signifikan dengan kontribusi 29,6 persen atau Rp147,5 triliun, naik 8,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Sektor mineral menguasai porsi terbesar, yaitu Rp98,3 triliun—dipimpin nikel dengan Rp41,5 triliun. Selebihnya berasal dari perkebunan dan kehutanan (Rp29,8 triliun), migas (Rp17,7 triliun), serta perikanan yang masih rendah di Rp1,7 triliun.
PMA Masih Dominan: Singapura, Hong Kong-Tiongkok, Jepang, dan AS
Pada triwulan pertama, aliran modal asing masih didominasi Singapura (USD4,6 miliar), disusul Hong Kong (USD2,7 miliar) dan Tiongkok (USD2,2 miliar). Jika Hong Kong dan Tiongkok digabungkan, keduanya menjadi investor terbesar dengan total USD4,9 miliar. Amerika Serikat dan Jepang melengkapi lima besar, masing-masing USD1,3 miliar dan USD1 miliar.
Rosan menegaskan bahwa minat investor tetap kuat. “Dari diskusi langsung dengan investor, mereka menyampaikan minat dan realisasi investasinya masih sangat-sangat tinggi,” ujarnya. Stabilitas ekonomi dan politik dinilai menjadi penentu utama, ditambah perbaikan regulasi dan penyempurnaan kebijakan hilirisasi.
KBLI 2025: Standar Baru Ekonomi Digital dan Energi Terbarukan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan implementasi KBLI 2025 yang kini mencakup sektor ekonomi modern seperti artificial intelligence (AI), konten kreator, aset kripto, hingga model bisnis factoryless goods producer. Pembaruan ini selaras dengan standar internasional ISIC Rev.5.
“Data Indonesia menjadi lebih comparable secara internasional,” ujar Amalia. KBLI 2025 juga memisahkan secara jelas klasifikasi energi fosil dan energi baru terbarukan, termasuk carbon capture & storage.
Baca juga: Rosan Lapor Prabowo soal Komitmen Investasi Jepang-Korsel Rp570 Triliun
Optimisme Pemerintah: Investasi jadi Motor Pertumbuhan 2026
Menko Airlangga menekankan bahwa investasi ditargetkan berkontribusi setidaknya 30 persen terhadap PDB 2026. Pemerintah melihat triwulan II–IV sebagai penentu, ditopang pembayaran gaji ke-13, stimulus fiskal lanjutan, serta ekspansi sektor energi terbarukan termasuk rencana 100 GW pembangkit tenaga surya.
“Driver pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sektor investasi,” uja Airlangga. Pemerintah juga menilai prospek Asia—terutama ASEAN—tetap lebih cerah daripada rata-rata global.
Dengan capaian awal Rp498,8 triliun dan meningkatnya proyek hilirisasi, pemerintah optimistis target Rp2.041 triliun masih dapat dicapai. Rosan menyimpulkan, “Appetite investor masih sangat tinggi karena Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi dan politik.”
Dengan porsi hilirisasi yang terus meningkat, arus modal asing yang tetap kuat, serta implementasi KBLI 2025 sebagai fondasi baru klasifikasi ekonomi nasional, pemerintah meyakini investasi akan menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi menuju target 5,4 persen pada 2026. (*)
Editor: Yulian Saputra








