Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI-Rate sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen pada Mei 2025, dari sebelumnya 5,75 persen.
Pemangkasan juga terjadi pada suku bunga Deposit Facility, yang turun menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility tetap berada di posisi 6,25 persen.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menyebut, penurunan suku bunga ini menjadi titik balik penting bagi pasar saham Indonesia.
Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya memberi ruang pemulihan ekonomi melalui konsumsi dan investasi, namun juga memperbaiki sentimen pasar dan menyalakan kembali mesin pertumbuhan sektor riil.
“Dalam konteks ini, sektor perbankan, properti, dan konsumer menjadi medan utama penguatan, sementara IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) punya peluang besar untuk bergerak menuju area resistensi psikologis baru, ditopang oleh optimisme domestik dan aliran dana asing yang mulai mengalir deras kembali ke lantai bursa,” kata Hendra dalam keterangannya dikutip, Kamis, 22 Mei 2025.
Baca juga: IHSG akan Bergerak di Rentang 7.070-7.200, Ini Katalis Penggeraknya
Langkah ini juga menandai dimulainya siklus pelonggaran suku bunga setelah periode pengetatan sejak 2023. Kebijakan ini memberikan dorongan besar bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
Di sisi lain, keputusan BI ini juga berpotensi menjadi magnet baru bagi investor asing. Dengan suku bunga riil Indonesia yang masih positif di kisaran 3 persen dan komitmen BI menjaga stabilitas rupiah, daya tarik pasar modal domestik pun meningkat.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat ke Level 7.142, Saham MSIN, INCO, dan ADMR Jadi Top Gainers
Investor global yang sebelumnya menahan diri akibat ketidakpastian global kini berpeluang kembali masuk, terutama ke saham-saham berfundamental kuat yang sempat undervalued.
Hendra menambahkan, saham-saham yang paling diuntungkan dari pemangkasan suku bunga berasal dari sektor perbankan, properti, hingga konsumer dan otomotif.
Saham perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dinilai berpeluang mencetak pertumbuhan laba yang lebih tinggi. Penurunan suku bunga akan menurunkan biaya dana (cost of fund) dan mendorong permintaan kredit, terutama pada segmen mikro dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“BBRI direkomendasikan BUY dengan target harga 4.530, sementara BBTN BUY dengan target 1.400, didukung oleh potensi lonjakan penyaluran kredit perumahan,” imbuhnya.
Baca juga: Breaking News! BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen di Mei 2025
Sementara itu, dari sektor properti, emiten seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) akan diuntungkan oleh penurunan bunga KPR yang mendorong permintaan hunian.
SMRA direkomendasikan BUY dengan target harga 515, dan ASRI BUY dengan target 189, mengingat keduanya memiliki portofolio township strategis yang sensitif terhadap insentif bunga rendah. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Allianz Indonesia memperkuat kanal keagenan (ASN) dan bancassurance melalui kickoff awal 2026 untuk… Read More
Poin Penting BRI menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 miliar, menjadi yang pertama di… Read More
Poin Penting Pelaporan SPT via Coretax capai 126.796 SPT hingga 12 Januari 2026 pukul 14.00… Read More
Poin Penting DBS Bank memproyeksikan IHSG menguat ke level 9.800 pada 2026, ditopang fundamental pasar… Read More
Poin Penting IHSG berbalik menguat pada pembukaan perdagangan 13 Januari 2026, naik 0,56 persen ke… Read More
Poin Penting Produksi minyak Venezuela rendah, invansi AS tak berdampak besar ke harga energi global.… Read More