Poin Penting
- Pertumbuhan bisnis perempuan wirausaha tidak cukup hanya dengan meningkatkan omzet, tetapi juga membutuhkan fondasi finansial yang kuat dan perlindungan terhadap risiko
- Perencanaan keuangan perlu mencakup tiga langkah, yakni Adaptasi, Akselerasi, dan Antisipasi, termasuk memisahkan keuangan pribadi dan bisnis
- Networking strategis dapat menjadi aset bisnis dengan membangun relasi yang relevan, autentik, dan saling menguntungkan untuk membuka peluang pasar, kolaborasi, dan pengembangan usaha.
Jakarta – Pertumbuhan usaha tidak cukup hanya ditopang kenaikan omzet. Bagi perempuan wirausaha yang menjalankan banyak peran sekaligus, kemampuan menjaga kondisi finansial dan membangun relasi yang tepat menjadi dua fondasi penting agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Menjadi perempuan wirausaha bukan hanya soal bagaimana mendapatkan lebih banyak pelanggan atau meningkatkan penjualan.
Di balik pertumbuhan bisnis, ada tantangan lain yang kerap luput diperhatikan, mulai dari bagaimana menjaga arus keuangan, melindungi kemampuan menghasilkan pendapatan, hingga membangun jaringan yang benar-benar dapat membuka peluang.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam sesi kelima sekaligus sesi terakhir rangkaian Sequis SHEPRENEUR Learning Series.
Dalam sesi ini, perempuan wirausaha diajak melihat pertumbuhan bisnis dari dua sisi, yakni memperkuat fondasi finansial dan mengubah relasi menjadi aset bisnis.
Agency Development Manager Sequis Life Henry Kurniawan melalui materi “Protect Your Future Through Financial Protection” menekankan bahwa perencanaan keuangan tidak berhenti pada upaya meningkatkan pendapatan.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga hasil yang sudah diperoleh agar dapat menopang kehidupan pribadi sekaligus keberlangsungan usaha.
“Perencanaan keuangan bukan hanya bagaimana meningkatkan pendapatan, tetapi juga bagaimana mengelola dan melindungi hasil yang telah diperoleh,” ujar Henry, dikutip Rabu (19/8).
Baca juga: Perkuat Perempuan Wirausaha, Sequis Life Luncurkan Program Sequis SHEPRENEUR
Menurutnya, perempuan wirausaha perlu memahami kondisi keuangannya secara menyeluruh, terutama karena banyak yang menjalankan beberapa peran sekaligus.
Ketika kemampuan menghasilkan income terganggu, dampaknya bukan hanya terhadap kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat merembet pada operasional usaha.
Karena itu, ia memperkenalkan konsep perencanaan finansial sederhana melalui tiga pendekatan, yakni Adaptasi, Akselerasi, dan Antisipasi.
Adaptasi berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengelola kondisi keuangan saat ini. Akselerasi dilakukan dengan meningkatkan kapasitas diri dan memanfaatkan peluang untuk menambah pendapatan. Sementara Antisipasi menjadi langkah untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perlindungan seharusnya berjalan beriringan. Ketika omzet meningkat, misalnya, perempuan wirausaha tetap perlu memastikan pendapatan dialokasikan secara terencana untuk kebutuhan operasional, kewajiban usaha, kebutuhan pribadi, hingga tabungan dan investasi.
Pemisahan keuangan pribadi dan bisnis juga menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Pencatatan keuangan yang teratur membantu pelaku usaha mengetahui kondisi bisnis secara lebih objektif sekaligus menjadi dasar dalam mengambil keputusan.
Risiko terhadap kemampuan menghasilkan pendapatan juga perlu diperhitungkan. Usaha yang sangat bergantung pada pemilik akan menghadapi persoalan ketika pemilik tidak dapat bekerja karena kondisi tertentu. Karena itu, perlindungan finansial dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesinambungan usaha, bukan semata persoalan pribadi.
Di sisi lain, pertumbuhan usaha juga membutuhkan akses terhadap peluang. Namun, membuka peluang tidak selalu berarti harus memperbanyak kenalan.
Sementara, Founder & CEO Mamiru Priscilla Anais melalui materi “Network to Net Worth: Turning Relationships Into Business Growth” mengajak perempuan wirausaha melihat networking secara lebih strategis.
“Networking bukan sekadar menambah kenalan dan memperbanyak kontak, tetapi membangun hubungan secara intentional dengan memahami value yang kita miliki dan menciptakan manfaat bersama,” kata Priscilla.
Menurut Priscilla, networking tidak identik dengan karakter extrovert. Relasi yang autentik dapat tumbuh melalui percakapan personal maupun komunitas yang relevan. Dari sana, jaringan dapat berkembang menjadi ruang bertukar pengetahuan, membuka akses pasar, menemukan mitra kolaborasi, hingga memperoleh perspektif baru.
Kuncinya adalah memahami value yang dimiliki dan dapat ditawarkan kepada pihak lain. Value tersebut tidak selalu berupa produk atau modal, tetapi bisa berasal dari pengalaman, keahlian, komunitas, maupun akses terhadap target pasar. Dengan begitu, kolaborasi dapat dibangun dengan perspektif win-win, bukan sekadar mencari keuntungan dari satu pihak.
Partnership pun tidak harus dimulai dalam skala besar. Kolaborasi dapat dibangun secara bertahap dengan melihat kebutuhan, kapasitas, dan kecocokan masing-masing pihak. Pendekatan ini membuat networking tidak berhenti sebagai aktivitas sosial, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi bisnis.
Pada saat yang sama, perempuan wirausaha perlu mampu memilih relasi dan peluang yang benar-benar relevan. Tidak semua peluang harus diambil dan tidak semua relasi perlu dikejar.
“Yang penting adalah melihat relevansi, kapasitas, manfaat, dan timing,” ujar Priscilla.
Baca juga: Sequis Life Fasilitasi Peningkatan Literasi Keuangan dan Potensi Bisnis Perempuan Wirausaha
Dua materi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual.
Perempuan wirausaha perlu mengetahui kapan harus mendorong bisnis untuk tumbuh, sekaligus kapan harus memperkuat perlindungan terhadap apa yang sudah dibangun.
Omzet dapat menjadi indikator pertumbuhan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesehatan usaha. Begitu pula jaringan yang luas belum tentu membuat bisnis semakin kuat apabila tidak menghasilkan hubungan yang relevan dan produktif.
Bagi perempuan yang menjalankan bisnis sekaligus berbagai tanggung jawab pribadi, kemampuan mengelola keduanya menjadi semakin penting.
Fondasi finansial yang kuat memberi ruang untuk menghadapi risiko, sementara relasi yang tepat dapat membuka pintu menuju peluang baru. (*) Alfi Salima Puteri


