Poin Penting
- Inflasi Maret 2026 tercatat 0,41 persen (mtm), dengan IHK naik menjadi 110,95 dari 110,57 pada Februari
- Penyumbang utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau (inflasi 0,7 persen; andil 0,32 persen), terutama ikan segar, daging ayam ras, dan beras.
- Secara wilayah, ada 34 provinsi mengalami inflasi dan 4 deflasi; inflasi tertinggi di Papua Pegunungan (2,57 persen) dan deflasi terdalam di Maluku (0,75 persen).
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (mtm) atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 110,95 dari 110,57 pada Februari 2026.
“Terjadi deflasi di Maret 2026 yang lebih rendah dari pada bulan sebelumnya,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, dalam Rilis BPS, Rabu 1 April 2026.
Lebih lanjut, kata Ateng, pada kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi terbesar pada Maret 2026 terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 0,7 persen, dengan memberikan andil 0,32 persen terhadap inflasi.
Baca juga: Breaking News! Neraca Perdagangan RI Surplus USD1,27 Miliar di Februari 2026
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok tersebut adalah ikan segar yang memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen, daging ayam ras 0,06 persen, serta beras dengan andil inflasi 0,03 persen, serta telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, sert daging sapi dengan andil masing-masing 0,02 persen” jelasnya.
Adapun komoditas lain yang memberikan andil inflasi adalah bensin dengan andil 0,04 persen, dan tarif angkutan antarkota sebesar 0,03 persen.
“Selain itu, terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi pada Maret 2026 antara lain, tarif angkutan udara dan emas perhiasan dengan andil masing-masing 0,03 persen,” jelasnya.
Secara rinci, pada Maret 2026 terjadi inflasi pada seluruh komponen, namun utamanya didorong oleh komponen inflasi harga bergejolak yang mengalami inflasi sebesar 1,58 persen dengan andil deflasi sebesar 0,27 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen bergejolak adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi,” imbuhnya.
Sementara, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,13 persen, yang memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.
Baca juga: Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Masih Menguntungkan di Tengah Konflik Timur Tengah
Selanjutnya, untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,31 persen dengan andil sebesar 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Sementara sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, yakni 34 provinsi mengalami inflasi dan 4 provinsi mengalami deflasi.
Adapun Infasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen, sementara deflasi terendah terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen. (*)
Editor: Galih Pratama










