Poin Penting
- Penetrasi asuransi Indonesia baru mencapai 2,84 persen, masih di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia.
- Indonesia Re menilai industri perlu bertransformasi melalui inovasi, peningkatan layanan, dan penguatan kepercayaan masyarakat.
- Dominasi generasi muda menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas pasar asuransi.
Jakarta – Industri asuransi dan reasuransi nasional masih menghadapi pekerjaan rumah (PR) besar. Meski kinerja premi terus bertumbuh, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2026, total premi industri perasuransian mencapai Rp127,96 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas premi asuransi jiwa sebesar Rp76,78 triliun dan premi asuransi umum sebesar Rp51,18 triliun.
Baca juga: OJK Ungkap 5 Protection Gap yang Masih “Menghantui” Industri Asuransi
Namun, pertumbuhan premi tersebut belum diikuti peningkatan penetrasi asuransi yang signifikan. Hingga saat ini, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia baru mencapai 2,84 persen.
Sebagai perbandingan, Singapura mencatat tingkat penetrasi asuransi sebesar 12,5 persen, Thailand 4,60 persen, dan Malaysia 3,80 persen. Kondisi ini menunjukkan industri asuransi nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar sekaligus tantangan untuk memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat.
Transformasi Jadi Kebutuhan Industri
Direktur Teknologi Informasi dan Pengembangan Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, mengatakan memasuki paruh kedua 2026, industri perasuransian perlu memanfaatkan momentum untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi, peningkatan kualitas layanan, dan penguatan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global, pesatnya perkembangan teknologi, dan perubahan perilaku konsumen membuat transformasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
“Selain menjaga ketahanan bisnis, industri juga perlu menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat kepercayaan masyarakat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan,” kata Beatrix dalam keterangan resmi, dikutip, Kamis, 6 Agustus 2026.
Baca juga: Indonesia Re Sebut Industri Reasuransi Harus Diperkuat untuk Hadapi Risiko Baru
Ia menilai transformasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengembangan produk yang lebih relevan, digitalisasi layanan, hingga peningkatan pengalaman nasabah agar industri mampu memperluas penetrasi pasar.
Dominasi Generasi Muda Jadi Tantangan Baru
Beatrix menambahkan, tantangan industri tidak hanya datang dari faktor ekonomi, tetapi juga perubahan struktur demografi Indonesia yang kini didominasi generasi muda.
Sekitar 70 persen penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh generasi Z, milenial, dan generasi alpha. Pergeseran tersebut mengubah cara masyarakat mencari informasi, mengambil keputusan keuangan, hingga memandang pentingnya perlindungan asuransi.
Karena itu, pelaku industri perlu menyesuaikan strategi bisnis dengan karakteristik generasi muda melalui inovasi produk, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan edukasi dan literasi keuangan. (*)
Editor: Yulian Saputra


