Poin Penting
- Zentara hadir untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada teknologi keamanan siber asing dengan mengembangkan produk dan riset keamanan siber di dalam negeri
- Perusahaan mengembangkan layanan SOC, investigasi insiden siber, threat intelligence, honeypot, dan SOAR untuk mendukung institusi strategis serta penegak hukum
- Zentara membangun komunitas pelatihan keamanan siber berbiaya terjangkau, menargetkan 100 karyawan pada akhir tahun, dan memperkuat R&D di bidang keamanan AI
Jakarta – Ketergantungan Indonesia terhadap teknologi keamanan siber buatan luar negeri masih menjadi tantangan besar, terutama di sektor yang mengelola data sensitif seperti perbankan, pemerintah, hingga pertahanan.
CEO dan Co-Founder Zentara, Regal Star, menilai selama ini Indonesia lebih banyak berperan sebagai pengguna teknologi dibandingkan pencipta teknologi.
“Ketika kami memulai Zentara, kami melihat banyak system integrator, tetapi hampir tidak ada yang benar-benar membangun produk keamanan siber dari Indonesia. Padahal, sektor seperti perbankan, pemerintah, dan pertahanan mengelola data yang sangat sensitif,” ujar Regal saat mengunjungi kantor Infobank Media Group, Jumat (10/7).
Berangkat dari kondisi tersebut, Zentara membangun perusahaan yang tidak hanya menyediakan layanan keamanan siber, tetapi juga mengembangkan teknologi melalui riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia.
Menurut Regal, membangun produk keamanan siber memang membutuhkan waktu. Selama masa pengembangan, perusahaan lebih dahulu menghadirkan berbagai layanan seperti Security Operations Center (SOC), vulnerability assessment, hingga investigasi insiden siber.
Baca juga: Ancaman Siber Berbasis AI Makin Masif, Perusahaan Harus Ubah Strategi Pertahanan Digital
Ia mengklaim kemampuan investigasi digital menjadi salah satu pembeda perusahaan. Tidak hanya membantu mendeteksi dan memulihkan insiden siber, Zentara juga berupaya mengidentifikasi aktor di balik serangan.
“Ketika terjadi serangan siber, yang penting bukan hanya memulihkan sistem, tetapi juga memahami siapa pelakunya dan bagaimana pola serangannya. Kemampuan investigasi end-to-end menjadi aspek yang sangat krusial, terutama bagi institusi strategis,” ungkap Regal.
Selain layanan keamanan, perusahaan juga mengembangkan sejumlah teknologi seperti threat intelligence, honeypot, SOAR, hingga berbagai perangkat analisis digital untuk mendukung kebutuhan penegak hukum maupun institusi pemerintah.
Regal mengatakan ambisi perusahaan tidak berhenti di pasar domestik. Ia ingin teknologi keamanan siber buatan Indonesia mampu bersaing dengan perusahaan global.
“Kami ingin membangun teknologi yang bisa bersaing dengan perusahaan dari Amerika Serikat maupun Australia. Indonesia selama ini dikenal sebagai pengekspor komoditas, tetapi kami ingin membuktikan bahwa kita juga bisa mengekspor teknologi,” ujarnya.
Di sisi lain, Regal menilai pengembangan industri keamanan siber nasional juga harus didukung oleh ketersediaan talenta. Menurutnya, biaya sertifikasi yang tinggi masih menjadi hambatan bagi banyak calon profesional keamanan siber di Indonesia.
Karena itu, Zentara membangun komunitas pembelajaran yang menyediakan materi pelatihan dengan biaya terjangkau agar lebih banyak talenta dapat meningkatkan kompetensinya.
Baca juga: Industri Jasa Keuangan Asia Pasifik Jadi Sasaran Utama Serangan Siber, Ini Datanya
“Kami ingin menghilangkan hambatan terbesar, yaitu akses terhadap pendidikan. Banyak orang sebenarnya mampu, tetapi biaya untuk belajar dan memperoleh sertifikasi masih terlalu mahal,” katanya.
Saat ini, Zentara telah memiliki lebih dari 60 karyawan dan menargetkan jumlah tersebut bertambah hingga sekitar 100 orang pada akhir tahun.
Di sisi pengembangan teknologi, perusahaan juga terus memperkuat laboratorium R&D yang berfokus pada keamanan AI, malware, keamanan large language model (LLM), serta perlindungan infrastruktur kritis. (*) Alfi Salima Puteri


