Nasional

Indonesia Dorong BRICS Perkuat Kerja Sama Kesehatan Global

Jakarta – Pemerintah Indonesia mendorong BRICS untuk memperkuat komitmennya terhadap keamanan kesehatan global melalui pengembangan kapasitas, pembagian sumber daya medis, dan penciptaan akses yang setara terhadap vaksin, khususnya di negara-negara berkembang.

Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera, dalam pidatonya pada 1st Working Session dengan tema BRICS Interparliamentary Alliance for Global Health, di Brasilia, Brazil, Rabu, 4 Juni 2025, waktu setempat.

“Penting bagi BRICS untuk mengambil peran utama dalam membentuk tata kelola kesehatan global agar lebih inklusif, responsif, dan reflektif. Apalagi saat ini Amerika Serikat  menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” ujar Mardani dinukil laman dpr.go.id, Sabtu, 7 Juni 2025.

Baca juga: Antisipasi Tarif Trump, RI Incar Peluang Dagang Baru Lewat BRICS dan CPTPP

Ia menilai, kerja sama global di bidang kesehatan (Global Health Cooperation) merupakan upaya yang sangat penting unotuk melindungi penduduk dunia dari risiko penyakit menular yang penyebarannya sangat cepat.

“Di dunia kita yang saling terhubung, wabah penyakit di mana saja dapat dengan cepat meningkat menjadi krisis global, seperti yang pernah ditunjukkan oleh pandemi Covid-19 lalu,” jelasnya.

Atasi Kesenjangan dan Perkuat Sistem Kesehatan

Diketahui, Global Health Cooperation dapat menjadi solusi atas kesenjangan kesehatan, memperkuat sistem perawatan kesehatan, dan mendorong akses yang adil terhadap sumber daya perawatan kesehatan.

Baca juga : BRICS Jadi Alternatif Strategis Diversifikasi Hadapi Tarif AS

Mardani menyatakan bahwa semua negara dapat berkontribusi untuk mencapai cakupan kesehatan universal dan tujuan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas.

Politisi PKS ini juga menyambut baik usulan BRICS (di bawah kepemimpinan Brazil). Salah satunya adalah membangun kemitraan global yang fokus pada populasi rentan demi mengeleminasi socially determined diseases (SDDs) dan neglected tropical diseases (NTDs).

“Pengeleminasian SDDs dan NTDs dapat membantu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 1 (tanpa kemiskinan), Tujuan 2 (tanpa kelaparan), Tujuan 6 (air bersih dan sanitasi), Tujuan 10 (mengurangi kesenjangan), serta mengatasi perubahan iklim,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Demutualisasi Bursa dan Krisis Akuntabilitas Hukum

Oleh Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute DEMUTUALISASI bursa efek kerap dipromosikan sebagai keniscayaan… Read More

29 mins ago

Jahja Setiaatmadja Borong 67.000 Saham BBCA, Rogoh Kocek Segini

Poin Penting Jahja Setiaatmadja tambah saham BBCA sebanyak 67.000 lembar secara tidak langsung dengan harga… Read More

1 hour ago

IHSG Hari Ini Masih Rawan Terkoreksi, Cermati 4 Saham Rekomendasi Analis

Poin Penting Secara teknikal, IHSG berpotensi terkoreksi di area 7.835–7.680 sebelum membentuk wave (b), dengan… Read More

1 hour ago

Milad 5, BSI Gaungkan Langkah EMAS Generasi EMAS

Kampanye sekaligus sebagai sosialisasi positioning BSI sebagai bank emas pertama di Indonesia dan mengajak masyarakat… Read More

3 hours ago

Pengguna Jago Terhubung Bibit-Stockbit Tembus 3 Juta, Investasi Naik 80 Persen

Poin Penting Pengguna Aplikasi Jago terhubung Bibit-Stockbit tembus 3 juta per Januari 2026, tumbuh 38%… Read More

11 hours ago

OJK Tekankan Transparansi dalam Reformasi Pasar Modal RI

Poin Penting OJK percepat reformasi pasar modal melalui delapan rencana aksi untuk memperkuat likuiditas, transparansi,… Read More

12 hours ago