Poin Penting
- Januari 2026 terjadi deflasi 0,15 persen (mtm), dengan IHK turun menjadi 109,75, berbalik arah dari inflasi pada bulan sebelumnya, menurut BPS
- Deflasi terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang deflasi 1,03 persen, dipicu penurunan harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam.
- Komponen bergejolak menjadi penyumbang deflasi terbesar, sementara komponen inti masih mencatat inflasi; secara wilayah, 20 provinsi inflasi dan 18 provinsi deflasi.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (mtm) atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 109,75 dari 109,92 pada Januari 2026.
“Terjadi deflasi di Januari 2026, berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS dalam Rilis BPS, Senin, 2 Februari 2026.
Penyumbang Deflasi Januari 2026
Pada kelompok pengeluaran, kata Ateng, penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2026 terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok makanan tersebut mengalami deflasi 1,03 persen, dengan memberikan andil 0,30 persen terhadap deflasi.
“Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok tersebut adalah cabai merah yang memberikan andil inflasi sebesar 0,16 persen, cabai rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras dengan andil deflasi 0,05 persen, serta telur ayam 0,03 persen” jelasnya.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus USD2,51 Miliar di Akhir 2025
Adapun komoditas lain yang memberikan andil deflasi adalah bensin dan tarif angkutan udara dengan andil masing-masing sebesar 0,03 persen.
“Selain itu, terdapat komoditas yang memberikan andil inflasi pada Januari 2026 antara lain, emas perhiasan dengan andil 0,16 persen, ikan segar dengan andil 0,06, serta tomat 0,02 persen,” jelasnya.
Secara rinci, berdasarkan komponen deflasi yang terjadi di Januari 2026 utamanya didorong oleh komponen bergejolak yang mengalami deflasi 1,96 persen dengan andil deflasi sebesar 0,33 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen bergejolak adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras dan telur ayam ras,” paparnya.
Selanjutnya, untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,32 persen dengan andil sebesar 0,06 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota
Baca juga: Survei HSBC: 69 Persen Pebisnis RI Sudah Antisipasi Ketidakpastian Perdagangan Global
Sementara, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,37 persen, yang memberikan andil inflasi sebesar 0,24 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, dan nasi dengan lauk.
Ateng menyebutkan, sebaran inflasi bulanan menurut wilayah yakni, 20 provinsi mengalami inflasi dan 18 provinsi mengalami deflasi. Adapun Infasi tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 1,48 persen, sementara deflasi terendah terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen.
“Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat mengalami deflasi di Januari 2026 setelah sebelumnya ketiga provinsi tersebut mengalami inflasi di desember 2025,” imbuhnya. (*)
Editor: Galih Pratama










