Jakarta–Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan sikapnya terkait impor jagung nasional yang diberhentikan secara mendadak. Kebijakan tersebut dinilai percuma bila komoditas lain malah meningkat.
“Impor Jagung distop tapi Impor Gandum meningkat. Ini kan kebijakan seperti anak SD. Kementan juga menghentikan impor jagung secara mendadak, akibatnya 483.185 ton jagung impor sempat tertahan di pelabuhan,” ungkap Enny Sri Hartati, Direktur INDEF di Jakarta, Senin, 10 Juli 2017.
Dirinya menambahkan, kebijakan untuk menghentikan impor jagung berdampak pada peningkatan harga pangan ternak nasional. Tercatat setelah kebijakan itu dilaksanakan pada akhir 2016 lalu berdampak pada peningkatan harga pakan ternak sekitar 20 persen.
Jagung sendiri merupakan bahan pakan ternak merupakan komponen terbesar yang dibutuhkan pabrik pakan skala besar, peternak ayam mandiri, dan pabrik pakan skala kecil/menengah, termasuk pabrik pakan milik koperasi susu. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Page: 1 2
Poin Penting Pemerintah Arab Saudi menegaskan tidak menerbitkan visa haji furoda pada penyelenggaraan haji tahun… Read More
Poin Penting BRI alihkan kepemilikan BRI-MI dan PNM-IM ke Danantara Asset Management melalui PJBB sebagai… Read More
Poin Penting Bank Dunia pangkas proyeksi ekonomi RI 2026 menjadi 4,7% dari 4,8% akibat ketidakpastian… Read More
Poin Penting Bank Banten membidik aset tumbuh ~20 persen menjadi Rp12 triliun dan laba bersih… Read More
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group INDUSTRI jasa keuangan Indonesia dewasa ini… Read More
Poin Penting PT BSA Logistics Indonesia Tbk resmi IPO di Bursa Efek Indonesia, saham melonjak… Read More