Jakarta–PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) telah membuktikan sebagai salah satu perusahaan di industri Semen yang telah berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dari batu bara dengan bahan bakar alternatif dari biomasa seperti sekam padi dan cocopeat, yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dalam mendukung rehabilitasi dan konservasi lingkungan.
Meski belum 100% melakukan perubahan penggunaan bahan fosil. Diharapkan subtitusi batu bara dengan bahan bakar alternatif ini bisa menurunkan emisi gas hingga 22% di 2020.
Hal ini juga diakui Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategi Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Fajar Harry Sampurno. Ia berharap apa yang dilakukan SMGR bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya.
“SMGR ini milik rakyat dan perusahaan terbuka, meski sebagai salah satu perusahaan yang mengejar keuntungan, kepentingan masyarakat dan lingkungan tetap perlu didahulukan. Kita harapkan kedepan kontribusi penurunan emisi bisa lebih besar lagi,” kata Fajar di Jakarta, Senin, 16 Januari 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
SMGR sendiri hari ini telah melakukan penyerahan secara simbolis ‘Emmission Refuction Certificate‘ kepada Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog.
Acara ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan jual beli Certified Emmission Reduction (CER) antara Perseroan dengan Pemerintah Swedia melalui Swedish Agency.
(Baca juga: Semen Indonesia Siap Beli Hasil Tambang Rakyat)
“Semen Indonesia berhasil melakukan Proyek Clean Development Mechanism (CDM) melalui subtitusi batu bara dengan bahan bakar alternatif dari biomasa di Pabrik Tuban. Melalui proyek CDM ini, perusahaan telah membantu penurunan emisi gas rumah kaca untuk mendukung rehabilitasi dan konservasi lingkungan” Direktur Utama SMGR, Rizkan Chandra.
Menurut Rizkan, proyek CDM Semen Indonesia dilakukan melalui pemanfaatan biomasa sebagai bahan bakar alternatif di Pabrik Tuban 1 dan 3. Sampai dengan Februari 2016, jumlah biomasa yang telah dipergunakan sebesar 275.778 ton. Biomasa yang dipergunakan berasal dari sekam pada dan cocopeat. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Keberhasilan proyek CDM Semen Indonesia terbukti dengan diterbitkannya Certified Emmison Reduction (CER) oleh United Nations Framework Convencion on Climate Change (UNFCCC) pada tanggal 12 Desember 2016, dengan total penurunan emisi sebesar 213.717 tonCO2eq. Berdasarkan ERPA, jumlah CER yang diperjual belikan tahap pertama sebesar 193.536 tonCO2eq dengan periode monitoring Januari 2013 – Februari 2016.
CER merupakan satuan penurunan emisi gas rumah kaca (CO2) yang dilakukan dilakukan di negara-negara berkembang. CER tersebut dikonversi menjadi sebuah kredit (issuance) yang dapat dibeli oleh negara-negara maju melalui NFCC. Setiap CER berarti telah melakukan penurunan emisi sebesar 1 tonCO2eq.
(Baca juga: Ketersediaan Sumber Daya Batu Bara Indonesia Tinggal 28 Miliar Ton)
Selain pemanfaatan biomasa, kata Rizkan, Semen Indonesia juga melakukan konservasi lingkungan untuk menurunan gas rumah kaca, seperti penggunaan material additive sebagai subtitusi terak, dan pemanfaatan gas panas buang untuk energi listrik melalui proyek Waste Heat Recovery Power Generator (WHRPG) di Pabrik Indarung dan Pabrik Tuban.
“Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawa sosial yang berkelanjutan,” pungkas Rizkan. (*)




