Poin Penting
- IHSG berbalik menguat pada pembukaan perdagangan 13 Januari 2026, naik 0,56 persen ke level 8.934,05 setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,58 persen
- Aktivitas pasar didominasi saham menguat, dengan 330 saham naik, 68 terkoreksi, dan nilai transaksi mencapai Rp435,27 miliar dari perdagangan 770,19 juta saham
- Sentimen teknikal dan asing positif, analis memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 8.839–8.937 dengan kecenderungan menguat, seiring aksi net buy asing Rp205 miliar.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini (13/1) berbalik dibuka menguat pada level 8.934,05 dari posisi 8.884,72 atau naik 0,56 persen.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan saham hari ini sebanyak 770,19 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 81 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp435,27 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 68 saham terkoreksi, sebanyak 330 saham menguat dan sebanyak 242 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: Menanti Gairah Kebangkitan Saham Perbankan, Siap Topang IHSG 2026?
Reliance Sekuritas Indonesia, sebelumnya telah memprediksi bahwa IHSG secara teknikal masih berpotensi untuk bergerak menguat pada rentang level 8.839-8.937.
“Kami memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support pada level 8.839 dan resistance pada level 8.937 dengan kecenderungan menguat,” kata analis Reliance dalam risetnya di Jakarta, 13 Januari 2026.
Diketahui, pada perdagangan kemarin (12/1) IHSG ditutup melemah pada level 8.884,72 atau turun 0,58 persen. Pelemahan dipimpin oleh saham-saham sektor infrastruktur dan energi.
Sementara itu, asing membukukan net buy sebesar Rp205 miliar di pasar reguler dengan saham-saham yang paling banyak dibeli seperti BBRI, ANTM, TLKM, ADRO, dan IMPC.
Baca juga: IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Ini Katalis Pemicunya
Pelemahan itu dipicu oleh sentimen negatif rencana Presiden Donald Trump untuk mengambil alih negara Iran, seperti Venezuela, serta mengancam Jerome Powell sebagai Chairman The Fed dengan dakwaan pidana.
Meski demikian, indeks utama bursa AS Bursa saham Wall Street ditutup mayoritas menguat. Sentimen positif disebabkan oleh berita investigasi atas Ketua Federal Reserve, Jerome Powell diabaikan oleh pasar dan langkah tersebut dinilai dalih Trump untuk mendapatkan lebih banyak pengaruh untuk kembali menurunkan suku bunga. (*)
Editor: Galih Pratama









