Poin Penting
- Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di level 6.225-6.280 pada pekan ini.
- Data ekonomi domestik dan arus net buy investor asing menjadi sentimen positif bagi IHSG.
- Kenaikan harga minyak dan konflik AS-Iran menjadi risiko yang perlu diwaspadai pasar.
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini secara teknikal bergerak di level 6.225-6.280.
“Secara teknikal diperkirakan IHSG berpeluang menguji level 6.225-6.280 pada pekan ini,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Dari domestik, sentimen pasar akan dipengaruhi sejumlah indikator ekonomi yang dijadwalkan rilis pekan ini. Data tersebut meliputi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan moneter pada 22 Juli, pertumbuhan kredit pada 22 Juli, dan M2 Money Supply pada 23 Juli.
Baca juga: IHSG Sepekan Menguat 4,24 Persen, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
Sentimen domestik juga mulai membaik setelah investor asing mencatatkan net buy selama dua hari berturut-turut pada pekan lalu.
Namun, kenaikan harga minyak menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Kondisi ini dapat memengaruhi prospek defisit APBN, inflasi, nilai tukar rupiah, dan suku bunga.
Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Perhatian
Dari global, perkembangan konflik AS-Iran berpotensi kembali menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang dapat memengaruhi prospek kenaikan suku bunga bank sentral.
Baca juga: Lima Saham Pengerek IHSG Pekan Ini, Perbankan Mendominasi
Sementara itu, sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) akan menghadapi sejumlah katalis dari rilis laporan keuangan perusahaan hyperscaler, produsen chip, dan operator infrastruktur. Beberapa perusahaan yang akan menjadi perhatian antara lain Alphabet, Intel, Tesla, dan GE Vernova.
Adapun dari Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) akan memutuskan kebijakan moneternya. Sementara dari Inggris, pasar akan mencermati rilis data inflasi, tingkat pengangguran, dan penjualan ritel. (*)
Editor: Yulian Saputra


