Poin Penting
- IHSG dibuka turun 0,25 persen ke level 6.101,57 dengan nilai transaksi mencapai Rp254,84 miliar.
- Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000 apabila ditutup di bawah 6.100.
- Investor menunggu hasil reviu MSCI dan mencermati dampak UU P2SK terhadap independensi Bank Indonesia.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Selasa (23/6) pukul 09.00 WIB kembali melemah. IHSG turun 0,25 persen ke level 6.101,57 dari posisi penutupan sebelumnya di 6.116,69.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan tersebut, sebanyak 303,86 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 38 ribu kali, dan total nilai transaksi mencapai Rp254,84 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 160 saham terkoreksi, sebanyak 200 saham menguat dan sebanyak 260 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Rawan Koreksi, Saham BBCA hingga RAJA Direkomendasikan
Manajemen Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG untuk pekan ini secara teknikal diprediksi akan bergerak untuk menguji level psikologis 6.000.
“jika IHSG ditutup di bawah level 6100, maka berpeluang akan menguji level psikologis di 6.000. Namun jika masih bertahan ditutup di atas level 6.100, diperkirakan konsolidasi IHSG masih akan berlanjut di kisaran 6.050-6.220,” kata Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Pada perdagangan Senin (22/6), IHSG ditutup melemah 0,98 persen ke level 6.116,69. Setelah sempat berada di zona positif pada awal sesi, IHSG bergerak turun hampir sepanjang perdagangan.
Baca juga: IHSG Ditutup di Zona Merah, Saham BINA, ACES, dan MYOR jadi Top Losers
Sektor bahan baku mencatat penurunan terdalam sebesar 2,49 persen, sedangkan sektor energi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,47 persen.
Investor Menanti Hasil Reviu MSCI dan Peringkat Indonesia
Phintraco Sekuritas menilai investor masih cenderung menunggu menjelang pengumuman Annual Market Classification Review MSCI pada 24 Juni 2026 untuk memastikan status Indonesia di kelompok Emerging Market.
Investor juga menanti hasil peninjauan peringkat Indonesia oleh S&P Global Ratings.
“Investor cenderung menunggu, menjelang pengumuman MSCI mengenai Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026, untuk memastikan apakah Indonesia masih di kelas Emerging Market. Investor juga menantikan hasil review S&P Global Standards terhadap peringkat Indonesia,” ujarnya.
Baca juga: IHSG Dibuka Hijau Awal Pekan Ini, Naik ke Posisi 6.217
Kekhawatiran terhadap Independensi BI Membayangi Pasar
Selain sentimen MSCI, sejumlah ketentuan dalam UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) turut menimbulkan ketidakpastian bagi investor.
Salah satu ketentuan yang menjadi sorotan adalah kewajiban Bank Indonesia (BI) memperoleh persetujuan DPR dalam menetapkan anggaran tahunan, yang mencakup anggaran operasional, kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial.
Baca juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Ekonom BTN Prediksi Ruang Kenaikan Suku Bunga Makin Terbatas
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terkait independensi BI sebagai bank sentral. (*)
Editor: Yulian Saputra


