IHSG Dibuka Rebound, Balik Lagi ke Level 7.000

IHSG Dibuka Rebound, Balik Lagi ke Level 7.000

Poin Penting

  • IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 7.002,69 pada awal perdagangan, berbalik dari penutupan sebelumnya di 6.989,43
  • Aktivitas pasar mencatat 361,32 juta saham diperdagangkan dengan nilai Rp159,51 miliar; 256 saham naik, 108 turun, dan 256 stagnan
  • Secara teknikal IHSG diproyeksi bergerak sideways di 6.900–7.100, dengan sentimen global (harga minyak, konflik Timur Tengah) dan domestik (rupiah, potensi defisit APBN) masih membayangi.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan awal pekan ini Selasa, 7 April 2026 pukul 09.00 WIB berbalik dibuka hijau pada level 7.002,69 dari posisi 6.989,42 atau menguat 0,19 persen.

Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 361,32 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 36 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp159,51 miliar. 

Kemudian, tercatat terdapat 108 saham terkoreksi, 256 saham menguat dan 256 saham tetap tidak berubah.

Baca juga: IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini

Analis Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG pada hari ini secara teknikal diperkirakan akan bergerak sideways pada rentang 6.900-7.000.

“IHSG diperkirakan bergerak sideways pada kisaran 6.900-7.100,” ucap analis Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 7 April 2026.

Diketahui, IHSG masih ditutup melemah pada level 6.989,43 atau turun 0,53 persen pada perdagangan kemarin (6/4). Hal itu dipicu oleh berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut. 

Phintraco menilai, investor berada pada posisi yang tidak menentu di antara mengharapkan adanya kesepakatan yang mengakhiri perang dan eskalasi signifikan yang membuat harga minyak mentah terus menguat. 

“Koreksi beberapa saham yang masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, menambah sentimen negatif yang membebani indeks,” imbuhnya.

Baca juga: Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Selain itu, harga minyak mentah yang bertahan di level harga tinggi berpotensi meningkatkan beban subsidi energi yang dapat memperlebar defisit APBN. 

Depresiasi rupiah juga berpotensi meningkatkan kenaikan inflasi dari barang-barang impor. Sementara itu, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir tahun ini. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62