IHSG Dibuka Melemah 0,50 Persen ke Posisi 9.088

IHSG Dibuka Melemah 0,50 Persen ke Posisi 9.088

Poin Penting

  • IHSG dibuka melemah 0,50 persen ke level 9.088,88 pada perdagangan pagi 21 Januari, dengan nilai transaksi Rp1,11 triliun dan 143 saham terkoreksi.
  • Tekanan datang dari sentimen domestik, termasuk aksi jual investor asing (outflow Rp104,68 miliar) serta pelemahan rupiah ke Rp16.981 per dolar AS.
  • Sentimen global negatif menyusul koreksi tajam Wall Street dan meningkatnya ketegangan geopolitik, meski sektor material dasar menguat ditopang reli harga emas.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik dibuka melemah ke level 9.088,88 dari posisi 9.134,70 atau turun 0,50 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (21/1).

Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 1,78 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 111 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp1,11 triliun. 

Kemudian, tercatat terdapat 143 saham terkoreksi, 268 saham menguat dan 233 saham tetap tidak berubah.

Baca juga: IHSG Berpotensi Melemah, 6 Saham Ini Justru Siap Kasih Cuan

Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi akan bergerak melemah di rentang level 8.990-9.150.

“Pada perdagangan kemarin (20/1) IHSG ditutup naik 0,01 persen atau bertambah 0,83 poin ke level 9.134. IHSG hari ini (21/1) diprediksi melemah dalam kisaran 8.990-9.150,” ucap Ratih dalam risetnya di Jakarta, 21 Januari 2025.

Ia melihat pergerakan IHSG hari ini bakal dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri. Salah satunya adalah IHSG kembali positif dalam lima hari beruntun. Investor asing juga terpantau outflow di seluruh pasar ekuitas Rp104,68 miliar. 

Saham sektor material dasar memimpin performa indeks sektoral. Pasalnya, harga emas lanjut reli lampaui ATH USD4.780 per oz (21/1). 

Baca juga: Tambah Kepemilikan, Grab Borong Saham Superbank Rp382,07 Miliar

Sementara, rupiah JISDOR lanjut tertekan ke level Rp16.981 per USD (21/1) ke level tertinggi sejak April 2025. Melemahnya rupiah senada dengan outflow investor asing di pasar SBN Rp9,91 triliun ytd (14/1).

Adapun sentimen global datang dari Bursa Wall Street kompak koreksi signifikan. Indeks Nasdaq turun 2,39 persen dan S&P 500 melemah 2,06 persen. 

Aksi profit taking dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah upaya Presiden Donald Trump mengakuisisi Greenland ditentang oleh para pemimpin Eropa. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62