Poin Penting
- IHSG sempat turun ke level 5.899 pada awal perdagangan sebelum berbalik menguat ke 5.905.
- Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih Rp5,52 triliun meski IHSG menguat dalam dua hari terakhir.
- Pasar mencermati penurunan Indeks Keyakinan Konsumen, inflasi AS, dan kenaikan harga minyak dunia.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada awal perdagangan Kamis (11/6). Setelah dibuka melemah ke level 5.899,26, IHSG berbalik menguat dan berada di posisi 5.905,55 atau naik 0,05 persen pada pukul 09.00 WIB.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan hari ini, sebanyak 515,20 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 61 ribu kali. Total nilai transaksi mencapai Rp402,54 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 149 saham terkoreksi, sebanyak 277 saham menguat dan sebanyak 224 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Kamis (11/6) Berpeluang Menguji Level 6.000
Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi akan bergerak variatif di rentang level 5.800-5.900.
“Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 2,71 persen atau naik 155 poin ke level 5.902. IHSG hari ini diprediksi bervariasi dalam kisaran 5.800-5.900,” ujar Ratih dalam risetnya di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Sentimen yang akan memengaruhi gerak IHSG hari ini dari dalam negeri, IHSG naik 5,5 persen secara week to date (wtd) (10/6). Meskipun IHSG rebound dalam dua hari terakhir, namun investor asing masih outflow di pasar reguler senilai Rp5,52 triliun.
Baca juga: IHSG Lanjut Ditutup Menguat 2,71 Persen ke Posisi 5.902, Seluruh Sektor Kompak Hijau
Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 turun ke level 120,9 dari bulan sebelumnya 123 sekaligus menjadi yang terendah sejak September 2025.
Penurunan optimisme konsumen senada dengan kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi yang mulai berlaku, serta suku bunga 50 bps pada Mei 2026.
IKK berpotensi melanjutkan tren penurunan ditengah berlanjutnya ekspektasi suku bunga tinggi, potensi 25 bps kenaikan BI-Rate yang saat ini di level 5,50 persem pada Juni 2026.
Adapun dari Mancanegara, Bursa Wall Street kompak melemah Indeks Nasdaq turun 1,98 persen dan S&P melemah 1,62 persen (10/6). Pasar merespon positif rilis data inflasi AS pada Mei 2026 yang naik 4,2 persen yoy, lebih tinggi dari bulan sebelumnya menguat 3,8 persen yoy, meskipun berada dalam ekspektasi konsensus.
Baca juga: Bos BUMN Nilai Kenaikan Harga Pertamax Tak Berdampak ke Inflasi
Inflasi tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2023 akibat kenaikan harga energi di tengah konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent masih solid di level USD94,9 per barel atau naik 1,9 persen (11/6). (*)
Editor: Yulian Saputra


