IHSG Berpotensi Bergerak Sideways di Level 8.200-8.350

IHSG Berpotensi Bergerak Sideways di Level 8.200-8.350

Poin Penting

  • IHSG diprediksi sideways di level 8.200–8.350, teknikal overbought tapi volume jual naik
  • Ada sejumlah sentimen pasar yang memengaruhi IHSG, di antaranya current account Q4 surplus USD2 miliar; kredit Januari tumbuh 9,96% yoy.
  • Kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan AS sebesar 19 persen juga akan memengaruhi pasar saham.

Jakarta – Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini (20/2) berpotensi bergerak sideways di rentang 8.200-8.350.

“Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram positif MACD dan Stochastic RSI mengarah ke overbought. Namun volume jual mengalami kenaikan. Sehingga diperkirakan IHSG akan cenderung bergerak sideways pada kisaran 8200-8350,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 20 Februari 2026.

Diketahui, pada perdagangan kemarin IHSG ditutup melemah ke level 8.274,08 atau turun 0,43 persen, setelah sempat menguat hingga level 8.376. Sektor teknologi mencatatkan koreksi terbesar, sebaliknya sektor bahan baku membukukan penguatan terbesar. 

Baca juga: Asing Borong Saham TUGU Dua Minggu Non Stop, Ada Apa?

Sentimen Pasar Saham Hari Ini

Pada perdagangan saham hari ini investor akan menantikan data current account kuartal IV 2025 yang diperkirakan membukukan surplus USD2.0 miliar dari surplus USD4.0 miliar di kuartal III 2025 (20/2).

Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI rate tetap pada level 4,75 persen untuk kelima kalinya berturut-turut (19/2). 

Keputusan ini sejalan dengan upaya untuk menstabilkan rupiah yang cenderung melemah, serta untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target BI dan mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Pertumbuhan kredit mencapai 9,96 persen yoy di Januari 2026 dari 9,69 persen yoy di Desember 2025, serta merupakan pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025. 

Kabar dari Washington, Amerika Serikat (AS), Indonesia dan AS menandatangani kesepakatan dagang dengan poin-poin di antaranya AS menyetujui penurunan tarif impor untuk produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen dan Indonesia menghapus bea impor untuk sebagian besar produk asal AS.

Baca juga: Deal! Prabowo-Trump Sepakati Tarif Resiprokal 19 Persen

Produk minyak sawit Indonesia mendapatkan fasilitas tarif impor 0 persen. Namun, produk tekstil tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 19 persen. 

Bersamaan dengan perjanjian pemerintah, telah ditandatangani pula 11 Nota Kesepahaman (MoU) sektor swasta kedua negara senilai USD38,4 miliar. Kerja sama ini mencakup sektor mineral kritis, energi, agribisnis, tekstil, dan teknologi semikonduktor. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62