Poin Penting
- IHSG diperkirakan menguji level 6.700-6.750 pada perdagangan Rabu (9/9).
- Kenaikan harga minyak Brent mendekati USD100 per barel berpotensi menekan APBN dan inflasi.
- Sektor energi berpeluang diuntungkan, sementara transportasi, logistik, manufaktur, dan barang konsumsi berisiko terdampak.
Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas mencermati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (9/9) berpeluang menguji level 6.700-6.750.
“Sementara itu IHSG kembali ditutup di atas level MA5 dengan volume beli yang cenderung meningkat. Sehingga diperkirakan IHSG akan uji level 6.700-6.750,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.
Meski demikian, investor perlu mewaspadai potensi pullback akibat aksi ambil untung (profit taking), terutama di tengah kenaikan harga minyak.
Baca juga: Syailendra Research: Pasar Keuangan Kompak Menguat, Rupiah dan IHSG Jadi Penopang
Pada perdagangan Selasa (8/9), IHSG ditutup menguat 1,01 persen ke level 6.686,44. IHSG bergerak di zona positif sepanjang perdagangan, terutama ditopang penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Dibukanya kembali Bandar Udara Soekarno-Hatta (Bandara Soetta) setelah sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau turut menjadi sentimen positif. Selain itu, kenaikan cadangan devisa pada Agustus juga menopang pergerakan IHSG.
Phintraco Sekuritas menyebut investor juga akan mencermati data indeks keyakinan konsumen yang diperkirakan naik tipis menjadi 117 pada Agustus 2026, dari 116,8.
Baca juga: IHSG Menguat 1,01 Persen ke 6.686, Saham MBMA hingga MDKA Masuk Top Gainers
Di sisi lain, penguatan harga minyak Brent yang mendekati USD100 per barel berpotensi kembali memperlebar defisit APBN 2026. Harga tersebut jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang sebesar USD70 per barel.
Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan inflasi domestik juga berpotensi meningkat. Sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan barang konsumsi diperkirakan menjadi sektor yang paling terdampak negatif.
Sebaliknya, sektor energi, termasuk migas dan sektor penunjangnya, serta komoditas terkait energi diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan. (*)
Editor: Yulian Saputra


