Perbankan

HSBC Indonesia Rilis Skema Kredit Berbasis ESG untuk Usaha Menengah, Ini Kelebihannya!

Poin Penting

  • HSBC Indonesia meluncurkan Sustainability Improvement Loan (SIL) untuk perusahaan menengah, dengan bunga terhubung pada kinerja ESG.
  • Debitur yang meningkatkan skor ESG mendapat insentif berupa penurunan suku bunga, mendorong praktik bisnis berkelanjutan.
  • Kemitraan dengan EcoVadis membantu perusahaan menengah menilai dan meningkatkan kinerja keberlanjutan agar siap menghadapi tuntutan global.

Jakarta – PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) resmi mengumumkan perluasan solusi pembiayaan berkelanjutan melalui peluncuran HSBC Sustainability Improvement Loan (SIL).

Peluncuran ini ditandai dengan keberhasilan HSBC Indonesia menyelesaikan transaksi pembiayaan pertamanya dengan PT Bambang Djaja (BD), produsen terkemuka trafo daya, distribusi, dan instrumen trafo, serta PT Bahtera Adi Jaya (Bahtera), distributor bahan kimia khusus.

Baca juga: Jurus HSBC Indonesia Gaet Nasabah Tajir

Dana dari fasilitas kredit HSBC SIL akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung pertumbuhan bisnis BD dan Bahtera dalam melayani klien multinasional. Solusi pembiayaan inovatif ini dirancang bagi perusahaan skala menengah, dengan menghubungkan secara langsung biaya kredit terhadap kinerja keberlanjutan.

Skema Kredit yang Terhubung dengan Kinerja ESG

Peluncuran HSBC Sustainability Improvement Loan di Jakarta, belum lama ini. (Foto: Istimewa)

Solusi pembiayaan terbaru ini dinilai bakal memperluas akses terhadap pembiayaan berkelanjutan yang tersedia di HSBC Indonesia, sehingga membantu perusahaan Indonesia dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Kami meluncurkan HSBC Sustainability Improvement Loan sebagai solusi pembiayaan inovatif yang dirancang untuk mengatasi kesenjangan dan memperluas akses terhadap pembiayaan berkelanjutan bagi usaha menengah,” ujar Banking Director, Corporate and Institutional Banking, HSBC Indonesia, Steve Andoko, dalam keterangan resmi, Selasa, 11 November 2025.

Steve menerangkan, HSBC memahami bahwa setiap bisnis menghadapi tantangan berbeda dalam hal keberlanjutan.

Baca juga: Suvei HSBC: Perusahaan RI Belum Siap Terapkan AI, Ini Tantangannya

Oleh karenanya, skema kredit HSBC SIL menghubungkan margin bunga pinjaman terhadap kinerja debitur dalam penilaian dan peringkat keberlanjutan dari EcoVadis, standar global untuk rantai pasok berkelanjutan dengan lebih dari 150.000 pemeringkatan ESG.

Struktur itu memberikan insentif dan dukungan bagi bisnis dari berbagai ukuran untuk mempercepat transisi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Dalam skema HSBC SIL, Debitur HSBC Sustainability Improvement Loan (SIL) yang berhasil meningkatkan skor ESG dapat memperoleh manfaat berupa penurunan suku bunga. Sebaliknya, suku bunga dapat meningkat jika skor debitur menurun.

“Tujuan HSBC adalah mendukung bisnis agar dapat berkembang secara bertanggung jawab dan menavigasi kompleksitas transisi menuju ekonomi rendah karbon, sembari mengambil langkah awal yang berarti dalam mewujudkan ambisi keberlanjutan mereka,” imbuh Steve.

Membuka Akses ESG untuk Perusahaan Menengah

Di sisi lain, Senior Vice President, Asia Pacific Japan, EcoVadis, Richard Bourne mengungkapkan adanya tren kenaikan perusahaan multinasional yang mewajibkan mitra rantai pasok mereka untuk mematuhi standar Environmental, Social dan Governance (ESG) global.

Tren tersebut berdampak terhadap berbagai sektor utama industri seperti manufaktur, agribisnis, dan energi.

Baca juga: Riset HSBC: Emas dan Kripto Jadi Pilihan Utama bagi Affluent Investor Indonesia

Namun, mayoritas perusahaan menengah yang baru memulai proses keberlanjutan masih kesulitan untuk mengakses Sustainability-Linked Loans (SLL), terutama karena keterbatasan sumber daya untuk mengukur dan melaporkan kinerja ESG.

Melalui penilaian skor ESG EcoVadis, perusahaan menengah dapat mengidentifikasi area kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan.

“Platform penilaian kami menyediakan rekomendasi praktis bagi perusahaan berbagai ukuran, termasuk usaha kecil dan menengah, untuk mengambil langkah awal yang krusial dalam perjalanan ESG, sehingga berpotensi mengakses skema pembiayaan lebih baik dan mendorong ketahanan lebih baik di seluruh rantai pasok global,” ucap Richard. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

RI Raup Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Hasil Kunjungan Prabowo

Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More

4 mins ago

AAUI: Implementasi PSAK 117 Masih jadi PR Industri Asuransi Umum

Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More

19 mins ago

OJK Denda 233 Pelaku Pasar Modal di Kuartal I 2026, Capai Rp96 Miliar

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More

26 mins ago

Nobu Bank Bukukan Laba Bersih Rp481,3 Miliar, Tumbuh 46,30 Persen di 2025

Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More

46 mins ago

Bank Jambi Gandeng SMF, Perkuat Likuiditas Pembiayaan Perumahan Rp200 Miliar

Poin Penting Bank Jambi dan SMF bekerja sama senilai Rp200 miliar untuk memperkuat likuiditas KPR.… Read More

59 mins ago

Indonesia-Korea Selatan Sepakati Investasi Rp173 Triliun, Ini Sektornya

Poin Penting Indonesia dan Korea Selatan meneken kerja sama investasi senilai Rp173 triliun, hasil kunjungan… Read More

1 hour ago