Poin Penting:
- Hilirisasi menyumbang 29,6 persen investasi nasional pada triwulan I-2026, didominasi nikel dan sektor mineral.
- Sebanyak 75,5 persen investasi hilirisasi mengalir ke luar Jawa, terutama ke Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.
- Momentum hilirisasi menjadi pengungkit utama target investasi 2026 yang mencapai lebih dari Rp2.041 triliun.
Jakarta – Realisasi investasi Indonesia pada triwulan I-2026 menunjukkan pergeseran signifikan ke sektor hilirisasi, yang kini menjadi lokomotif utama penanaman modal. Dalam laporan resmi pemerintah, hilirisasi disebut sebagai penggerak investasi yang mencapai 29,6 persen dari total realisasi. Capaian ini menegaskan arah transformasi ekonomi nasional.
Hilirisasi ini menjadi sorotan sejak awal karena perannya yang terus menguat dalam strategi industrialisasi pemerintah.
Realisasi investasi mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen (yoy), dengan penyerapan tenaga kerja 706.569 orang. Komposisi antara PMA dan PMDN relatif seimbang, namun sektor berbasis sumber daya, khususnya mineral, menjadi penyumbang terbesar—sejalan dengan agenda pemerintah yang terus menekankan nilai tambah.
Sejak awal tahun, pemerintah menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II hingga IV akan sangat bergantung pada dorongan investasi. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan bahwa kontribusi hilirisasi bukan hanya signifikan, tetapi juga meningkat dari tren tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026
Hilirisasi Dorong Investasi Mineral, Didominasi Nikel
Sektor hilirisasi tercatat menyumbang Rp147,5 triliun, naik 8,2 persen, dan sebagian besarnya berasal dari mineral—dengan nikel sebagai komponen dominan.
Dari total investasi hilirisasi, Rp98,3 triliun berasal dari sektor mineral. “Nomor satu masih nikel dengan Rp41,5 triliun, kemudian tembaga, besi baja, bauksit, timah dan lainnya,” kata Rosan dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan I 2026 dan Implementasi KBLI 2025 di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Arah investasi ini konsisten dengan ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik yang sedang dibangun pemerintah. Rantai industri dari tambang nikel hingga daur ulang baterai menjadi basis kebijakan jangka panjang yang terus dipromosikan dalam kunjungan internasional Presiden dan kementerian terkait.
Tidak hanya mineral, hilirisasi perkebunan dan kehutanan juga tercatat mencapai Rp29,8 triliun—didukung komoditas seperti kelapa sawit, kakao, kayu log, dan karet. Pemerintah mulai mendorong diversifikasi ke perikanan dan kelautan, termasuk rumput laut dan tilapia, yang diperkirakan naik mulai semester II.
75,5 Persen Investasi Hilirisasi Mengalir ke Luar Jawa
Investasi hilirisasi semakin terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. “Kurang lebih 75,5 persen atau Rp111,4 triliun dari total investasi hilirisasi itu berada di luar Jawa,” ujar Rosan. Dominasi kawasan seperti Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara menegaskan lokasi sumber bahan baku yang menjadi pusat aktivitas industri.
Sulawesi Tenggara menjadi penerima investasi hilirisasi terbesar, disusul Maluku Utara, Jawa Barat, NTB, dan Kepulauan Riau. Distribusi ini menunjukkan pergeseran struktur industri nasional yang makin desentralistis dan mengikuti ketersediaan sumber daya.
Secara total, distribusi investasi nasional juga semakin merata, dengan realisasi luar Jawa mencapai Rp251,3 triliun, sedikit lebih tinggi dari Jawa (Rp247,5 triliun). Kondisi ini dinilai pemerintah sebagai indikator keberhasilan pembangunan yang lebih inklusif.
Baca juga: Investasi Triwulan I 2026 Tembus Rp498,8 Triliun, 24,4 Persen dari Target Tahunan
Investor Tetap Optimistis Meski Ketidakpastian Global Meningkat
Di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Selat Hormuz, Indonesia tetap dinilai sebagai tujuan investasi yang stabil. Dalam berbagai pertemuan internasional—termasuk kunjungan ke Jepang, Korea, China, dan Singapura—pemerintah menerima sinyal positif dari investor.
Stabilitas ekonomi dan politik menjadi faktor kunci. “Keinginannya masih sangat tinggi,” kata Rosan. Investor terutama tertarik pada hilirisasi mineral, data center, energi baru terbarukan, dan manufaktur modern.
Dukungan regulasi seperti implementasi KBLI 2025 yang dikemas BPS untuk mencakup sektor AI, ekonomi digital, energi terbarukan, hingga carbon capture turut memperkuat kepastian usaha.
Pemerintah optimistis target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun dapat dicapai. Investasi ditargetkan menyumbang lebih dari 30 persen terhadap PDB, menjadi motor utama pertumbuhan 5,4 persen yang ditargetkan pemerintah.
Baca juga: CEO Danantara Temui Prabowo di Hambalang, Bahas Proyek Hilirisasi Rp100 Triliun
Hilirisasi Tetap Menjadi Penopang Utama Ekonomi
Dengan kontribusi hilirisasi yang mencapai 29,6 persen investasi, didominasi sektor mineral dan mengalir 75,5 persen ke luar Jawa, pemerintah menilai tren industrialisasi berbasis sumber daya akan semakin kuat ke depan.
Momentum ini menjadi fondasi penting untuk mencapai target investasi nasional serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan bernilai tambah tinggi. (*)
Editor: Yulian Saputra








