Poin Penting
- Minyak Brent tembus USD116/barel (naik >3 persen), mendekati puncak dua pekan terakhir, terdorong eskalasi konflik AS–Israel–Iran
- Ketegangan di Selat Hormuz yang menyuplai ~20 persen minyak & LNG dunia memicu lonjakan harga hingga hampir 60 persen sejak konflik, memicu risiko krisis energi global.
- Pasar saham Asia melemah tajam (>4 persen), sementara analis melihat harga minyak masih berpotensi naik ke USD120/barel akibat gangguan distribusi yang belum sepenuhnya tercermin.
Jakarta – Harga minyak dunia kembali menembus USD116 per barel di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Dinukil laman Al Jazeera, Senin (30/3), minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat naik lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin pagi.
Kondisi ini mencapai posisi tertinggi dalam hampir dua pekan terakhir. Kenaikan ini mendekati level 119 dollar AS per barel yang sempat terjadi pada 19 Maret lalu.
Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, DPR Minta Prabowo Turun Langsung
Melesatnya harga terjadi setelah Iran menuduh Presiden AS Donald Trump tengah mempersiapkan invasi darat. Ketegangan meningkat setelah serangan rudal oleh kelompok Houthi ke Israel dan ekspansi militer Israel ke Lebanon selatan.
Gangguan di Selat Hormuz pun turut memperburuk situasi. Jalur tersebut menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG global.
Sejak konflik dimulai, harga minyak telah naik hampir 60 persen dan memicu kekhawatiran krisis energi global. Dampaknya, dunia kini menghadapi krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Baca juga: Rupiah Dibuka Tembus Rp17.000 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Dampak ke Pasar Global
Kenaikan harga energi turut menekan pasar keuangan global. Bursa saham di Asia tercatat melemah tajam, dengan indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 4 persen pada perdagangan pagi.
Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak lanjutan krisis energi terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Sebelumnya, Trump, mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz sebelum tenggat waktu 6 April.
Di sisi lain, Trump juga mengklaim adanya peluang kesepakatan damai melalui pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Pakistan.
Namun, Iran menolak proposal tersebut dan mengajukan syaratnya sendiri, termasuk kompensasi perang dan pengakuan atas kontrol terhadap jalur strategis tersebut.
Proyeksi Harga Masih Naik
CEO Onyx Capital Group, Greg Newman, menilai pasar belum sepenuhnya mencerminkan dampak gangguan pasokan yang terjadi.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD92 per Barel, Defisit APBN Terancam Melebar?
Menurut dia, efek kekurangan minyak biasanya baru terasa beberapa minggu setelah gangguan distribusi.
“Pasar baru mulai mencerminkan realitas. Kami melihat potensi kenaikan menuju 120 dolar AS per barel dan seterusnya,” ujarnya.
Ia juga menilai skala gangguan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pasar energi modern.
Lalu Lintas Mulai Pulih Terbatas
Meski demikian, terdapat sedikit perkembangan positif. Iran mulai mengizinkan sejumlah kapal dari negara non-sekutu AS dan Israel untuk melintas.
Beberapa negara seperti Pakistan dan Malaysia dilaporkan telah memperoleh akses terbatas. Namun, volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi normal, yang sebelumnya mencapai sekitar 120 kapal per hari.
Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap harga energi global diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat. (*)
Editor: Galih Pratama










