Harga Minyak Tembus USD102 per Barel usai Trump Ancam Blokade Hormuz

Harga Minyak Tembus USD102 per Barel usai Trump Ancam Blokade Hormuz

Poin Penting:

  • Lonjakan harga minyak global mencapai sekitar 8 persen akibat ancaman blokade Selat Hormuz oleh Donald Trump.
  • Perundingan damai AS–Iran di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan dan memicu respons keras dari Washington.
  • AS melalui CENTCOM bersiap memulai blokade penuh yang mengancam stabilitas suplai minyak internasional.

Jakarta – Lonjakan harga minyak kembali terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam memulai blokade di Selat Hormuz. Hal ini memicu gejolak baru di pasar energi global. Harga minyak mentah dunia terpantau melonjak sekitar 8 persen pada perdagangan terbaru.

Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan AS-Iran

Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas dan menjadi katalis utama kenaikan harga minyak di pasar global. Data perdagangan mencatat harga minyak mentah Brent menembus 102 dolar AS per barel, sementara minyak mentah WTI ikut terkerek lebih dari 8 persen. Lonjakan ini terjadi di tengah memanasnya hubungan kedua negara setelah perundingan damai kembali menemui jalan buntu.

Pada Minggu (12/4) pukul 22.01 GMT atau Senin pukul 05.01 WIB, minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Juni tercatat naik 7,76 persen menjadi 102,59 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI berjangka Mei menguat 8,2 persen menjadi 104,51 dolar AS.

Baca juga: OPEC+8 Tambah Pasokan Minyak Global, Naik 206 Ribu Barel per Hari

Perdagangan sebelumnya sempat diwarnai harapan positif setelah AS dan Iran memulai pembicaraan di Islamabad, Pakistan, menyusul kesepakatan gencatan senjata dua pekan. Namun, optimisme itu sirna ketika Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang memimpin delegasi AS, menyatakan kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.

Tim diplomasi AS pun meninggalkan Islamabad tanpa hasil, menandai kebuntuan baru yang segera memancing respons keras dari Washington.

Trump Perintahkan Blokade Penuh Selat Hormuz

Kegagalan perundingan membuat Trump mengambil langkah ekstrem. Ia mengumumkan rencana blokade menyeluruh terhadap kapal yang masuk dan keluar Selat Hormuz, salah satu jalur minyak terpenting di dunia.

“Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain akan terlibat dalam blokade ini,” tulis Trump di platform Truth Social.

Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade seluruh kapal hingga akses masuk dan keluar diizinkan. Ia juga memerintahkan pencarian dan pencegatan setiap kapal di perairan internasional yang “membayar upeti kepada Iran”.

“Tidak ada pihak mana pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” tegasnya.

Tak lama berselang, CENTCOM memastikan akan memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran pada Senin pukul 14.00 GMT.

Trump juga menuduh Iran tetap mempertahankan ambisi nuklirnya meski sebagian besar poin negosiasi telah disepakati. “Pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin telah disepakati; tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, nuklir, tidak tercapai,” ujarnya dikutip Antara, Senin (13/4/2026). Ia menambahkan bahwa Iran masih “meng­inginkan nuklir”.

Baca juga: Bahlil Sebut Pasokan Minyak Kini Tak Bergantung pada Hormuz

Langkah agresif Trump memicu kekhawatiran pasar bahwa suplai minyak global dapat terganggu, mengingat Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak dari Timur Tengah. Gejolak inilah yang mendorong harga minyak melonjak signifikan dalam waktu singkat.

Ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk kembali menempatkan harga minyak pada posisi rentan. Ancaman blokade Selat Hormuz membuka risiko suplai global terganggu, yang berpotensi memperpanjang tekanan kenaikan harga energi dunia apabila ketegangan AS–Iran tidak mereda. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

[popular_posts period="24" limit="5" show_views="false"]

News Update

Netizen +62