Ilustrasi: Harga minyak dunia diprediksi bakal naik imbas ditutupnya Selat Hormuz. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Harga minyak dunia sempat menembus USD113 per barel pada Senin (9/3). Lonjakan harga minyak ini memperburuk reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari, yang mana harga minyak dunia masih berada di sekitar level USD70 per barel.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia masih berpotensi terjadi seiring dengan makin memanasnya konflik Amerika Seritat (AS)-Israel dengan Iran di Timur Tengah.
“Konflik antara AS-Israel dengan Iran yang lalu berdampak terhadap penutupan atau terhambatnya jalur Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab utama dari melonjaknya harga minyak global,” kata Rully dalam sebuah paparan virtual, Selasa, 10 Maret 2026.
Baca juga: Harga Minyak Tembus USD100 per Barel, Kadin Wanti-wanti Hal Ini
Rully mengungkapkan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan menjamin lancarnya arus kapal tanker minyak di Selat Hormuz sebagai pernyataan politik semata untuk menenangkan pasar.
“Karena untuk memastikan kelancaran itu juga pasti membutuhkan biaya yang tinggi. Jadi, kita mungkin masih akan mengamati perkembangannya, apakah sesuai dengan janji Trump (konflik) berlangsung 4 minggu atau mungkin bisa lebih,” ujar Rully.
Ia lebih lanjut mengatakan, dalam menghadapi potensi kenaikan harga minyak dunia saat ini, pemerintah Indonesia perlu melakukan penyesuaian fiskal dengan lebih fleksibel.
Baca juga: Harga Minyak Sempat Tembus USD100 per Barel, Purbaya Buka Suara soal APBN dan BBM
Keputusan untuk melakukan efisiensi pun semakin tak terhindarkan. Pasalnya, beban fiskal yang terlalu besar untuk subsidi energi akan semakin memperburuk citra Indonesia di mata lembaga rating dunia. Hal ini bakal berimbas pada penurunan rating kredit atau ekonomi Indonesia.
Defisit anggaran pun tetap harus terjaga di bawah 3 persen. Selain menaikkan harga BBM, pemangkasan terhadap beberapa pos anggaran perlu dilakukan pemerintah demi menjaga batas aman defisit anggaran.
“Saya rasa 3 persen ini dari sisi lembaga rating, suatu harga yang tak bisa ditawar lagi, harus tetap dijaga di bawah 3 persen. Jadi, harus dilakukan efisiensi, mungkin ada beberapa budget yang mungkin bisa sedikit demi sedikit dikurangi,” tandasnya. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyebut integritas Kementerian Keuangan banyak dipertanyakan masyarakat, terutama akibat… Read More
Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group ADA sebuah peristiwa kecil di Senayan… Read More
Poin Penting AXA Financial Indonesia meluncurkan AXA Gen Health, produk asuransi tambahan (rider) yang fokus… Read More
Poin Penting Harga emas masih berpotensi naik di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, bahkan… Read More
Poin Penting Penjualan eceran Februari 2026 diprakirakan menguat, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 6,9… Read More
Poin Penting PT Bank Nationalnobu Tbk atau Bank Nobu menyiapkan dana maksimal Rp50 miliar untuk… Read More