Poin Penting
- Dalam 24 jam terakhir, BTC naik 0,70 persen ke level USD91.280 dengan dominasi pasar 59,15 persen, sementara kapitalisasi pasar kripto meningkat ke USD3,08 triliun.
- Aliran dana Bitcoin Spot ETF berbalik ke zona negatif dengan net outflow USD681,01 juta, mencerminkan sikap risk-off investor dan masih kuatnya resistance di area USD94.000.
- Arah Bitcoin ke depan dipengaruhi rilis data inflasi AS, kebijakan The Fed, putusan MA AS, serta dinamika regulasi kripto yang berpotensi memicu volatilitas.
Jakarta – Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin meningkat 0,70 persen bergerak di USD91.280 atau setara Rp1.535.164.099.
Dominasi pasar BTC (BTC.D) kini berada di level 59,15 persen sementara total kapitalisasi pasar aset kripto menguat 0,60 persen ke level USD3,08 triliun.
“Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di sekitar USD90.000-94.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar USD3.150 – USD3.300,” kata Panji Yudha, Financial Expert Ajaib dalam keterangan resmi di Jakarta, 12 Januari 2026.
Harga Bitcoin Stagnan
Sebelumnya, Bitcoin cenderung stagnan di sekitar level psikologis USD90.000, menutup pekan penuh pertama di awal tahun tanpa arah yang jelas.
Bitcoin sempat menguat hingga mendekati USD4.800 pada awal pekan lalu, di mana harga itu kembali terkoreksi dan saat ini bergerak di kisaran USD90.453.
Area USD94.000 masih menjadi resistance kuat yang belum berhasil ditembus sejak tekanan jual besar pada Oktober 2025.
Baca juga: Bursa Kripto ICEx Resmi Beroperasi, Disokong Pendanaan Strategis Rp1 Triliun
Adapun dari sisi institusional, aliran dana Bitcoin Spot ETF berbalik tajam ke zona negatif. Pada pekan yang berakhir 9 Januari 2026, tercatat net outflow sebesar USD681,01 juta, membalikkan posisi net inflow pekan sebelumnya.
Tekanan jual terjadi selama empat hari berturut-turut, dengan puncak arus keluar pada 7–9 Januari. Kondisi ini sekaligus menghapus momentum inflow besar yang sempat terbentuk di awal Januari, menandakan meningkatnya sikap risk-off investor menjelang agenda makro penting.
Oleh karena itu, fokus pasar kini beralih ke sejumlah katalis utama pekan ini. Pada Selasa (13/1), rilis data inflasi AS (US CPI) dengan ekspektasi tahunan 2,7 persen akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga The Fed.
Lebih lanjut, pada Rabu, 14 Januari, pasar akan mencermati putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Trump serta rilis US Producer Price Index (PPI) sebagai indikator tekanan harga dari sisi produsen.
Baca juga: OJK Catat Transaksi Aset Kripto 2025 Tembus Rp482 Triliun
Di luar faktor ekonomi, sentimen politik turut menjadi perhatian, terutama dengan potensi pemungutan suara RUU Struktur Pasar Aset Kripto di Senat AS pada pekan depan.
Kombinasi faktor makro, arus dana ETF, dan perkembangan regulasi ini berpotensi mendorong volatilitas lebih tinggi pada Bitcoin dan aset kripto secara keseluruhan dalam waktu dekat. (*)
Editor: Galih Pratama










