Yusuf Mansur Mantap Beli Saham BRI Syariah
Jakarta – Di tengah pandemi virus corona (Covid19), PT Bank BRISyariah Tbk (BRI Syairah) mengaku telah mewaspadai pengetatan likuiditas maupun pembengkakan kredit bermasalah atau Non Performing Finance (NPF) hingga akhir tahun 2020.
Direktur Bisnis Komersil BRISyariah Kokok Alun Akbar melalui video conference di Jakarta, Selasa 5 Mei 2020 menyatakan, saat ini likuiditas yang aman menjadi kunci agar pertumbuhan bisnis perbankan terwujud.
“Likuiditas dimasa krisis ini menjadi raja, oleh karena itu kami akan terus menjaga bagaimana likuiditas bisa terjaga dengan baik,” ujar Kokok.
Ia menilai, hingga kuartal I-2020 likuiditas BRISyariah masih dalam kondisi aman dan terjaga. Hal tersebut tercermin dari Financing to Deposit Ratio (FDR) pada batas aman, yakni 92,11%. Hal ini menunjukkan fungsi intermediari perbankan yang optimal.
Sedangkan untuk NPF BRISyariah pada triwulan I 2020 tercatat 2,95%, turun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019, yang mencapai 4,34%. Dirinya pun masih optimis dapat menekan angka NPF hingga 2,5%.
“Yang paling diantsipasi covid19 ini adalah kredit bermasalah atau pembiayaan bermasalah tapi fokus kita itu perbaiki jaga NPF agar tetep terjaga melalui restrukturisasi,” tambah Kokok.
Sebagai informasi saja, pada triwulan I 2020, total pembiayaan yang disalurkan BRISyariah menjadi sebesar Rp30,45 triliun atau tumbuh 34,28% (yoy) dengan total dana murah yang berhasil dihimpun sebesar Rp16,86 triliun. (*)
Editor: Rezkiana Np
Poin Penting Agrinas menyatakan siap menunda rencana impor 105 ribu kendaraan dari India mengikuti arahan… Read More
Poin Penting Astra Otoparts (AUTO) membukukan laba bersih Rp2,20 triliun pada 2025, meningkat dari Rp2,03… Read More
Poin Penting Program MBG telah menyerap Rp36,6 triliun hingga 21 Februari 2026, setara 10,9% dari… Read More
Poin Penting Pemerintah perpanjang penempatan dana SAL Rp200 triliun hingga September 2026 untuk menjaga likuiditas… Read More
Poin Penting Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak naik pada 24 Februari 2026 di… Read More
Poin Penting Pada 23 Februari 2026, investor asing mencatat net foreign buy Rp1,09 triliun, meski… Read More