Poin Penting
- Guardian Indonesia memiliki 378 gerai dan masih membuka peluang ekspansi di berbagai daerah.
- Ekspansi 2026-2027 diarahkan untuk memperkuat bisnis omnichannel dan menjangkau kota tier 2 serta tier 3.
- Gen Z dibidik melalui edukasi kesehatan dan wellness di kampus dan komunitas.
Tangerang – Guardian Indonesia terus memperluas bisnis ritel kesehatan dan kecantikan dengan menyasar pertumbuhan konsumen di berbagai wilayah sekaligus memperkuat pendekatan kepada generasi Z. Selain mengembangkan jaringan gerai dan kanal digital, Guardian menjadikan edukasi wellness sebagai salah satu cara membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen muda.
Managing Director Guardian Indonesia, Bhavin Patel mengatakan, perusahaan tengah memperkuat posisi sebagai peritel omnichannel dengan mengembangkan kanal online dan offline. Ekspansi jaringan gerai pada 2026 dan 2027 tidak hanya menyasar pusat perbelanjaan, tetapi juga membuka peluang di kota tier 2 dan tier 3 serta lokasi yang lebih dekat dengan konsumen.
“Kami terus memperluas jaringan toko. Namun, terkait jumlah, saya belum bisa memberikan angka pasti. Yang jelas, ekspansi akan dilakukan di seluruh Indonesia,” ujar Bhavin, Senin, 14 September 2026.
Saat ini, jumlah gerai Guardian Indonesia telah mencapai 378 toko. Perseroan juga terus melakukan penyegaran jaringan gerai, baik dari sisi tampilan toko maupun jajaran produk, menyesuaikan kondisi, usia, lokasi, dan perkembangan produk.
Baca juga: Melalui Guardian Indonesia, DFI Nusantara Dorong Penguatan Ekosistem Halal
Selain ekspansi gerai, Guardian melihat potensi pertumbuhan dari kanal digital. Bhavin mengungkapkan, pengembangan bisnis ke depan akan diarahkan untuk memperkuat kehadiran Guardian di berbagai kanal agar konsumen dapat mengakses produk dan layanan di lokasi maupun saluran yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Pada 2026 dan 2027, kami fokus sebagai peritel omnichannel, dengan mengembangkan kehadiran online maupun offline,” ungkapnya.
Dalam memperluas jaringan, Guardian juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan mitra lokal melalui model franchise. Menurut Bhavin, franchise menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan bisnis dengan memanfaatkan pengetahuan dan sumber daya mitra di daerah.
Namun, perseroan tidak ingin mengejar pertumbuhan jumlah gerai secara agresif tanpa memperhitungkan kelayakan bisnis. Guardian akan mempertimbangkan kesiapan mitra, kondisi lokasi, perkembangan wilayah, serta aspek ekonomi sebelum membuka gerai franchise.
“Bagi kami, yang terpenting bukan sekadar membuka toko, tetapi memastikan kami melayani pelanggan di tempat yang tepat. Kami tidak ingin membuka toko hanya untuk kemudian menutupnya,” tuturnya.
Baca juga: Fokus Bisnis Guardian dan IKEA, HERO Ganti Nama jadi DFI Retail Nusantara
Di tengah ekspansi jaringan tersebut, Guardian juga membidik potensi pasar generasi Z yang semakin memperhatikan kesehatan, kecantikan, dan perawatan diri. Perseroan mengembangkan pendekatan kepada segmen tersebut melalui program edukasi wellness di lingkungan kampus.
Strategi ini sejalan dengan perkembangan pasar wellness di kalangan generasi muda. Dalam survei Future of Wellness yang dirilis McKinsey & Company, generasi Z menjadi penggerak utama pasar wellness, dengan kontribusi 41 persen dari total pengeluaran untuk kesehatan dan perawatan diri.
Untuk menggarap segmen tersebut, Guardian pada 2026 memperluas program Guardian Wellness Journey Goes to Campus ke delapan universitas yang tersebar di DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Surabaya. Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 24.000 mahasiswa.
Bhavin menjelaskan, pendekatan kepada mahasiswa bukan sekadar untuk memperkenalkan produk Guardian. Perseroan ingin membangun hubungan dengan konsumen sejak usia muda melalui edukasi kesehatan dan wellness secara holistik.
“Kami tidak melihat ini hanya sebagai sebuah program atau event, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kami,” jelasnya.
Selain itu, Guardian ingin mengambil posisi sebagai trusted advisor bagi konsumen, termasuk mendampingi mereka ketika beralih dari dunia pendidikan menuju dunia kerja dan berbagai tahapan kehidupan berikutnya.
Baca juga: Bank Sentral Belanda Mendadak Pindahkan 86 Ton Emas ke London, Ada Apa?
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi strategi Guardian dalam membangun basis konsumen tanpa menjadikan penjualan sebagai target langsung dari setiap kegiatan kampus. Bhavin mengatakan, perseroan tidak menetapkan target bisnis khusus untuk masing-masing event.
“Kami tidak menetapkan target hanya bagi event tertentu. Fokus kami sekarang adalah menjadi advisor yang dipercaya bagi pelanggan kami,” tambahnya.
Meski demikian, Guardian tetap melihat potensi komersial dari hubungan yang dibangun dengan konsumen. Peningkatan engagement diharapkan pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap penjualan secara natural. Guardian juga berencana memperluas kegiatan edukasi wellness ke komunitas untuk menjangkau konsumen dalam berbagai tahapan kehidupan.
“Apakah itu kemudian diterjemahkan menjadi penjualan yang lebih baik? Tentu saja. Sebagai bisnis, kami ingin hal tersebut secara natural menghasilkan penjualan yang lebih baik. Namun, bagi kami fokusnya adalah pelanggan, bukan penjualan. Kami akan terus melakukan ini, bukan hanya di universitas, tetapi juga di komunitas,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


