Poin Penting:
- Pemesanan global bond Danantara mencapai 4,6 miliar dolar AS, lebih dari tiga kali target awal sebesar 1 miliar dolar AS.
- Tingginya minat investor membuat Danantara meningkatkan nilai penerbitan obligasi menjadi 1,5 miliar dolar AS dengan tenor lima dan 10 tahun.
- Investor asal Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar pada kedua tenor obligasi yang diterbitkan Danantara.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, minat investor terhadap global bond Danantara tetap menunjukkan kekuatan. Hal itu tercermin dari nilai pemesanan (peak orderbook) obligasi global perdana Danantara Indonesia yang mencapai sekitar 4,6 miliar dolar AS, atau lebih dari tiga kali lipat nilai penerbitan yang akhirnya ditetapkan sebesar 1,5 miliar dolar AS.
CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengatakan perseroan semula menargetkan penghimpunan dana sebesar 1 miliar dolar AS. Namun, tingginya permintaan investor mendorong peningkatan nilai penerbitan obligasi tersebut.
“Dari rencana 1 miliar dolar AS yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar AS. Melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar dolar AS menjadi 1,5 miliar dolar AS,” kata Rosan di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Antara, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Global Bond Danantara: Sejak Kapan Utang Disambut Seperti Pesta Panen Raya
Tingginya Permintaan Global Bond Danantara Dorong Upsize Penerbitan
Tingginya minat terhadap global bond Danantara diperoleh setelah manajemen melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia. Dalam kegiatan tersebut, Danantara bertemu dengan 122 investor dari berbagai negara untuk memaparkan strategi investasi dan arah kebijakan perusahaan.
Berdasarkan hasil penawaran awal atau bookbuilding, Danantara memutuskan menaikkan nilai penerbitan obligasi dari target semula 1 miliar dolar AS menjadi 1,5 miliar dolar AS. Instrumen tersebut diterbitkan dalam dua tenor, yakni lima tahun dan 10 tahun.
Rosan mengungkapkan bahwa pada tahap awal penerbitan, sejumlah pelaku pasar memperkirakan Danantara harus menawarkan tingkat imbal hasil atau yield di atas 6 persen hingga 7 persen karena kondisi pasar global yang sedang menghadapi tekanan.
Namun, permintaan investor yang kuat membuat biaya pendanaan yang diperoleh menjadi lebih kompetitif. Obligasi tenor lima tahun ditetapkan dengan yield sebesar 5,35 persen, sementara obligasi tenor 10 tahun menawarkan yield 5,95 persen.
“Di lihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah. Karena kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium yang sangat tinggi,” jelasnya.
Baca juga: Koalisi Desak BPK Audit Danantara, Transparansi Aset Rp16.000 Triliun Dipertanyakan
Investor Amerika Serikat Menjadi Pembeli Terbesar
Keberhasilan penerbitan global bond Danantara juga tercermin dari komposisi investor yang berpartisipasi. Rosan menyebut investor asal AS menjadi kelompok pembeli terbesar, berbeda dari pola historis penerbitan obligasi Indonesia yang umumnya lebih banyak diminati investor Asia.
Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari kawasan Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia.
Sementara itu, pada obligasi tenor 10 tahun, investor Amerika Serikat mendominasi dengan porsi 52 persen. Adapun investor dari Eropa dan Timur Tengah mencapai 31 persen, sedangkan Asia menyumbang 17 persen.
“Boleh dibilang biasanya penerbitan obligasi dari Indonesia, justru peminatnya kebanyakan dari Asia. Historical itu seperti itu, tapi ini justru kebalikannya, justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat,” ujar Rosan.
Ia menambahkan, proses transaksi telah memasuki tahap final setelah penandatanganan dilakukan pada 11 Juni 2026. Dana hasil penerbitan obligasi dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026.
“Ini real, kenapa? Karena tanggal 11 kemarin kita sudah signing, dan tanggal 18 dananya akan masuk ke dalam rekening Danantara. Dan ini real, karena banyak yang menyampaikan sama ini, ‘oh tidak akan ada investasi mau percaya kepada kita’, tapi ini real. Ini membuktikan bahwa memang kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan tinggi,” kata Rosan.
Baca juga: Pengamat Soroti Transparansi Danantara, Tekankan Penguatan Audit dan Governance
Rosan Klaim Kepercayaan Investor terhadap Indonesia Menguat
Rosan menilai keberhasilan penerbitan obligasi internasional perdana tersebut menjadi indikator kuat bahwa investor global masih memiliki kepercayaan tinggi terhadap Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi dunia.
Menurutnya, capaian pemesanan yang mencapai lebih dari tiga kali nilai penerbitan membantah anggapan bahwa investor asing enggan menanamkan modal di Indonesia atau hanya bersedia membeli surat utang dengan premi risiko tinggi.
“Ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini real ya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan kredibilitas Danantara dan pemerintah tetap terjaga di mata pasar internasional.
“Ini di luar ekspektasi banyak orang yang memperkirakan, tadinya kalau kita mau raise obligasi, mana ada yang mau beli, itu yang pertama. Kedua, wah pasti nanti rate-nya tinggi nih. Ternyata dua hal itu tidak terjadi dan ini juga menunjukkan kredibilitas baik dari Danantara maupun dari pemerintah itu sangat terjaga,” jelasnya.
Ke depan, Danantara membuka peluang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor yang lebih panjang, bahkan hingga 30 tahun, seiring tingginya minat investor terhadap instrumen investasi yang diterbitkan perusahaan. Tingginya permintaan terhadap global bond Danantara dinilai menjadi sinyal positif bagi akses pendanaan jangka panjang sekaligus mencerminkan kepercayaan pasar internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama


