Poin Penting
Jakarta - Bidang cybersecurity atau keamanan siber menjadi salah satu sektor paling krusial di era digital.
Maraknya fraud dan cyber attack membuat kebutuhan tenaga ahli keamanan siber meningkat pesat.
Namun, kesenjangan (gap) kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di bidang cybersecurity masih sangat lebar secara global.
Task Force Lead, Cybersecurity and Digital Sovereignty Mastel Digital Enabler, Andang Nugroho mengungkapkan bahwa gap kebutuhan SDM untuk posisi cybersecurity di seluruh dunia mencapai 4.762.963 individu pada 2024, naik 19 persen secara tahunan dibanding tahun sebelumnya.
“Global Security Workforce Gap, jadi artinya apa? Jabatan atau posisi cybersecurity yang tidak terisi secara global. Ada 4,7 juta, hampir 5 juta," ujar Andang dalam acara Executive Cybersecurity Roundtable yang diadakan PT SLK Digital Innovation di Jakarta, Selasa, 4 November 2025.
"Bila kita mengatakan saya seorang profesional cybersecurity, lalu ingin kabur ke luar negeri, potensinya besar,” sambungnya.
Baca juga: Kerugian Akibat Cyber Crime Bisa Tembus USD23,84 T di 2027, BI: BSPI 2030 Siap Meluncur
Menurut Andang, wilayah Asia Pasifik menjadi wilayah dengan kekurangan SDM cybersecurity terbesar di dunia, yakni mencapai 3.374.580 orang. Disusul Amerika Utara (542.687), Eropa (392.320), Amerika Latin (328.397), serta Timur Tengah dan Afrika (124.978).
“Di Asia Pasifik itu shortage-nya, kekurangannya ada (hampir) 3,4 juta posisi, jabatan, fungsi cybersecurity yang tidak terisi,” sebut Andang.
Ia menjelaskan, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik masih tergolong lambat dibanding wilayah lain. Dampaknya, permintaan tenaga ahli keamanan siber meningkat tajam, sementara suplai SDM belum memadai.
Faktor utama penyebab kekurangan SDM cybersecurity di Asia Pasifik, menurut Andang, adalah proses rekrutmen yang sulit dan mahal.
“Cari orang susah. Kalau sudah ketemu orang yang cocok, harganya kemahalan. Ini keluhan yang saya sangat sering dengar dari teman-teman,” bebernya dalam forum bertema “Defend, Adapt, Thrive: Cyber Resilience in the Age of Intelligent Threats”.
Baca juga: Cyber Heist, “Tuyul” Digital yang Diam-Diam “Menggangsir” Laci Bank
Selain itu, dari segi waktu, Andang mengungkapkan, dibutuhkan waktu yang lama, yakni rata-rata sekitar enam bulan untuk sebuah institusi menemukan SDM yang cocok mengisi posisi cybersecurity.
“Bayangkan, kalau sekarang kita lihat nih, kira-kira 2025 angka (shortage) ini akan membesar atau mengecil. Curiganya akan membesar. SDM yang ada pun terkadang kita berpikir, kurang nih, kurang cocok nih. Perlu ditingkatkan skill-nya,” cetusnya.
Kondisi tersebut diperburuk oleh pesatnya tren digitalisasi di berbagai sektor. Menurut Andang, lebih dari 90 persen lembaga di Indonesia telah menyatakan diri go digital. Namun, peningkatan digitalisasi tidak diimbangi dengan penguatan sistem keamanan siber.
“Jarang kita lihat satu perusahaan punya produk atau layanan online yang end-to-end itu dia sendiri. Nah, terus di sananya aman tidak? Kalau di saya aman, bisa tidak risiko itu berasal dari pihak ketiga? Bisa lebih banyak,” ungkapnya.
Page: 1 2
Poin Penting Fitur leverage memungkinkan transaksi lebih besar dari modal, tetapi juga memperbesar potensi kerugian… Read More
Poin Penting Harga emas global bergerak fluktuatif dipengaruhi faktor ekonomi, inflasi, suku bunga, dan geopolitik… Read More
Poin Penting BGN meminta maaf atas insiden keamanan pangan dalam program MBG di SPPG Pondok… Read More
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More
Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More
Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More