Fresh Graduate Sulit Mencari Kerja, Ini Ternyata Kendalanya

Fresh Graduate Sulit Mencari Kerja, Ini Ternyata Kendalanya

Amazon
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Situasi di dua tahun terakhir sejak pandemi Covid-19 terjadi, telah mengakibatkan dampak negatif yang cukup besar bagi perekonomian dan juga masyarakat. Hal ini tentunya juga berdampak bagi para pencari kerja dan lulusan baru dari berbagai universitas di Indonesia yang masih kesulitan memperoleh pekerjaan hingga saat ini.

Menipisnya lowongan pekerjaan dan membludaknya jumlah sumber daya manusia yang berlomba-lomba mencari pekerjaan menyebabkan persaingan yang sangat ketat dalam mencari mata pencaharian dan meningkatknya jumlah pengangguran di Indonesia.

Sulitnya mendapat sebuah pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia yang jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pencari kerja, melainkan juga akibat adanya kesenjangan antara kompetensi atau keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dengan keterampilan mahasiswa itu sendiri.

Tidak sedikit perusahaan yang kesulitan merekrut talenta atau mencari tenaga kerja yang sesuai kriteria atau kebutuhan mereka. Meskipun demikian, angka pengangguran di Indonesia menurun sebanyak 2,6 juta orang di tahun 2021. Namun angka tersebut masih terbilang kecil mengingat survei dari Badan Pusat Statistik menyebut terdapat 8,75 juta penduduk yang belum bekerja dan dari jumlah tersebut, sekitar 7% berasal dari lulusan perguruan tinggi.

“Kondisi ini membuat persaingan kerja di level lulusan baru (fresh graduate) semakin ketat. Tidak hanya karena jumlah lowongan yang terbatas, tapi juga kesenjangan kompetensi antara yang dibutuhkan dengan yang dimiliki oleh para lulusan baru,” ujar CEO sekaligus Co-Founder Kinobi, Benjamin Wong, dalam keterangan resminya, Senin, 6 Juni 2022.

Suatu hal yang menjadi penyebab sulitnya para fresh graduates untuk memperoleh pekerjaan adalah keterbatasan dan minimnya akses bagi mereka sejak masih berstatus mahasiswa terhadap informasi seputar pengembangan karir. Contoh nyatanya, tidak sedikit mahasiswa lulusan baru yang belum memahami konsep dan tata cara menyusun resume atau CV mereka yang diperlukan untuk melamar pekerjaan.

Menurutnya, para lulusan baru umumnya sering kebingungan dalam menyusun konten atau isi yang seharusnya dicantumkan dalam resume atau CV mereka pada saat hendak melamar pekerjaan. Akibatnya, tidak sedikit para pencari kerja yang terus ditolak oleh berbagai perusahaan akibat konten CV atau resume yang tidak ideal dan informatif untuk memaparkan  kompetensi, pengalaman dan kualifikasi mereka.

Untuk mengantisipasi keadaan tersebut dan disaat bersamaan mengurangi jumlah pengangguran, maka diperlukan sinergi antara para pemangku kepentingan (stakeholders) yang meliputi pihak universitas, pemerintah, dan juga perusahaan swasta termasuk startup  dalam menyediakan sumber daya yang dapat mendukung pengembangan karir, khususnya melalui pemanfaatan teknologi di era digital saat ini.

Para mahasiswa dan fresh graduates membutuhkan solusi untuk mempersiapkan mereka secara lebih baik untuk memasuki dunia kerja. Di sisi lain, banyak universitas di Indonesia yang juga memerlukan solusi yang dapat mendukung pengembangan career center internal sehingga dapat membantu mahasiswanya untuk lebih siap dan terampil dalam berkompetisi mencari kerja.

Hal ini juga yang menjadi motivasi utama didirikannya Kinobi, perusahaan startup di bidang jobtech (job technology) yang menyediakan solusi nyata yang dibutuhkan para mahasiswa dan universitas di Indonesia dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi mahasiswa di Indonesia dalam pengembangan karir secara efektif.

Kinobi menyediakan solusi berwujud software-as-a-service (SaaS) bagi para universitas di Indonesia sehingga mahasiswanya dapat menggunakan teknologi dan fitur guna menyusun resume dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) sekaligus melatih teknik interview, keterampilan kerja, dan juga penyediaan portal lowongan pekerjaan.

Benjamin Wong, mengatakan bahwa persiapan karir mahasiswa harus dilakukan sejak dini dari hulu ke hilir sebelum memasuki dunia kerja, bahkan sebelum melamar pekerjaan.

“Kinobi percaya bahwa setiap mahasiswa dan fresh graduate di Indonesia berhak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam karirnya dan dilatih keterampilannya. Ini termasuk contoh sederhana dan wujud nyata dari keadilan sosial dalam sila kelima Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia,” kata Benjamin.

Kinobi sendiri memiliki banyak fitur. “Kami menyediakan berbagai fitur software untuk persiapan karir seperti resume builder otomatis, pelatihan interview, dan portal lowongan pekerjaan yang menjangkau berbagai industri, sub-sektor dan wilayah. Tujuannya sederhana, menyediakan akses yang setara dan adil bagi mahasiswa untuk membangun karir sekaligus memperoleh pekerjaan yang baik,” ucapnya. (*)

 

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]