Poin Penting
- Fitch Ratings menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun peringkat Sovereign Credit tetap di level BBB.
- Kemenkeu menegaskan komitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal, termasuk melalui deregulasi, debottlenecking investasi, serta penguatan reformasi struktural.
- Indikator ekonomi dan fiskal menunjukkan perbaikan, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen.
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan tanggapan terkait dengan outlook peringkat utang Indonesia yang dipangkas dari stabil menjadi negative oleh lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings. Namun, peringkat Sovereign Credit Indonesia tetap berada pada level BBB.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro mengatakan pemerintah akan terus menjaga stabilitas makroekonomi, melanjutkan disiplin fiskal sebagaimana dimandatkan dalam undang-undang, dan memperbaiki iklim usaha.
“Antara lain dengan langkah debottlenecking dan deregulasi untuk peningkatan investasi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi serta memperkuat reformasi struktural untuk meningkatkan ketahanan ekonomi,” kata Deni dalam keterangan resmi, dikutip, Kamis, 5 Maret 2026.
Baca juga: Fitch Turunkan Outlook Utang RI jadi Negatif, Risiko Fiskal MBG dan Danantara Disorot
Deni menyebutkan, berbagai langkah tersebut dinilai telah menunjukkan perbaikan. Tercermin dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,39 persen pada triwulan IV 2025. Berbagai leading indicator aktivitas ekonomi di awal 2026 seperti indeks kepercayaan konsumsi, purchasing manager’s index, konsumsi listrik (bisnis dan industri), penjualan kendaraan (mobil dan motor) juga diklaim terus menunjukkan momentum perbaikan.
Dari aspek fiskal, perbaikan juga terjadi signifikan. Terlihat dari pendapatan negara di Januari 2026 tumbuh 9,5 persen year on year (yoy) dan Februari 2026 tumbuh 12,8 persen yoy, terutama didukung oleh penerimaan pajak yang tumbuh tinggi 30,7 persen yoy pada Januari 2026 dan 30,4 persen yoy pada Februari 2026.
Belanja negara pun tumbuh signifikan 25,7 persen yoy pada Januari 2026 dan 41,9 persen yoy pada Februari 2026.
”Percepatan belanja dan stimulus ekonomi dilakukan secara terukur untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang terus meningkat, dengan tetap memastikan APBN sehat dan disiplin fiskal terjaga,” ujarnya.
Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah terus meningkatkan koordinasi lintas sektor agar momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat dijaga dalam jangka menengah dengan tetap mempertahankan stabilitas.
Koordinasi kebijakan fiskal-moneter terus menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan program-program prioritas berjalan efektif dan akuntabel.
“Kolaborasi dengan Danantara semakin diperkuat, sebagai mesin pertumbuhan baru yang menggerakkan ekonomi melalui investasi strategis di luar APBN namun tetap fokus pada profit berkelanjutan, termasuk terus mengungkit investasi swasta bernilai tambah tinggi,” tambahnya.
Afirmasi Fitch Ratings
Adapun Fitch Ratings melakukan afirmasi terhadap peringkat Sovereign Credit Indonesia yang tetap berada pada level BBB, menunjukkan kepercayaan terhadap fondasi ekonomi yang kuat, stabil, dan prospek jangka menengah yang solid.
Hasil afirmasi ini merupakan tahapan akhir dari proses asesmen Fitch setelah rangkaian kunjungan tanggal 23-26 Februari 2026 di Jakarta.
Fitch telah melakukan diskusi dengan beberapa K/L dan otoritas, yaitu: Kemenko Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Baca juga: Ekonom Permata Bank soal Reviu MSCI-Outlook Moody’s: Jangan Anggap Negatif
Fitch menilai Indonesia memiliki rekam jejak yang baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi, inflasi terkendali, serta struktur utang publik yang relatif moderat dibandingkan negara-negara sekelasnya.
Fitch juga memberikan penilaian positif tambahan pada aspek makroekonomi (Qualitative Overlay +1 notch), mencerminkan apresiasi atas kredibilitas kebijakan makroekonomi Indonesia dan ketahanan sektor keuangan yang mendukung pertumbuhan jangka menengah.
Meski demikian, Fitch melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif terkait beberapa catatan.
Fitch mencatat bahwa outlook akan kembali ke stabil jika stabilitas makroekonomi terwujud melalui konsistensi disiplin kebijakan. (*)
Editor: Galih Pratama










