Fenomena Politik Mulai Ramai Pasca Nasdem Deklarasikan Anies Sebagai Capres

Fenomena Politik Mulai Ramai Pasca Nasdem Deklarasikan Anies Sebagai Capres

parpol
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Direktur Eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo menilai fenomena politik makin menarik pasca Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres). Sejumlah elite politik mulai rajin menggelar pertemuan.

Terakhir adalah Plt Ketum PPP Mardiono membuka peluang untuk mendukung Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjadi capres dan hendak membuka komunikasi dengan Koalisi Indonesia Bersatu. Di sisi lain, Ganjar juga masuk pada kantong-kantong basis pemilih Islam di beberapa daerah.

“Yang menarik posisi Mas Ganjar. Dalam diamnya justru mendapat dukungan dari banyak komunitas basis pemilih Islam dan PPP. Kalau kita kontraskan Anies, dia menyambangi sendiri komunitas Islam,” ujar Ari dikutip 10 Oktober 2022.

Meski posisi Ganjar menguat di kalangan KIB, Ganjar masih tergantung dengan keputusan PDIP. “Makanya posisi Mas Ganjar menguat ke KIB itu juga nanti berpulang ke Mas Ganjar. Apakah tetap kader PDIP atau keluar dari PDIP? Sejauh ini saya merasa Mas Ganjar sangat loyal dengan PDIP,” tambahnya.

Ari juga mengungkapkan adanya peluang pemasangan Ganjar dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto, meski dinamikanya masih terus berjalan. “Kemungkinan itu tetap terbuka. Pak Airlangga berpeluang untuk berpasangan dengan Mas Ganjar. Tapi dinamikanya masih sangat cair. Tergantung bagaimana PAN dan Golkar?,” ungkapnya.

Ari menilai, ada besar kemungkinan PDIP bekerjasama dengan KIB dalam menghadapi Pilpres 2024 dibandingkan dengan poros Gerindra-PKB atau Nasdem. Hal itu disebabkan Gerindra agak sudah untuk tidak mencalonkan Prabowo, sedangkan Nasdem sudah mendeklarasikan Anies sebagai capres. Sehingga kemungkinan besar akan muncul 3 koalisi atau poros dalam Pilpres 2024.

“Kecenderungannya sih PDIP lebih punya chemistry sama KIB dibanding dengan Gerindra. Sementara PDIP juga mau capres bukan cawapres,” pungkasnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyebut, pertemuan Puan dan Airlangga kental nuansa koalisi atau penjajakan, terlebih keduanya bertemu tanpa didampingi Ketum lain di KIB.

“Pertemuan ini untuk pengusungan, maka potensi bergabung golkar cukup terbuka, karena KIB berada dalam posisi sulit, mereka tidak ada tokoh yang berpengaruh, sekaligus tidak ada tokoh simbol kebersamaan,” tambahnya.

Meski berada dalam satu koalisi, Dedi melihat setiap Ketum telah menjalankan aksi mereka sendiri. Misalnya saja, Ketum PAN Zulkifli Hasan bertemu petinggi Partai Demokrat. Lalu Plt. Ketum PPP Mardiono yang menyatakan dukungan sejumlah kadernya untuk Ganjar Pranowo.

Sementara itu Ketum Airlangga melakukan pertemuan dengan Ketum Gerindra Prabowo dan terbaru, Puan Maharani. “Ini penanda KIB punya potensi pecah untuk Pilpres,” sebut Dedi.

Namun bicara dua nama kader PDIP, yaitu Puan dan Ganjar, keduanya disebut Dedi memiliki elektabilitas dan basis pendukung yang sama. “Terkonfirmasi pendukung PDIP lebih loyal. Ganjar dan Puan sebetulnya elektabilitas sama, sumber mereka dari kader PDIP. bukan dari tempat lain,” jelas Dedi.

Dari pertemuan Sabtu (8/10) lalu, jika PDIP berkoalisi dengan Golkar, maka pasangan yang paling bisa diusung adalah Puan-Airlangga, dengan catatan Ganjar dijanjikan masuk kabinet. 

“Semua akan diuntungkan, Airlangga bisa masuk bursa capres tanpa harus kehilangan tiket, dan PDIP tetap punya Ganjar yang punya daya ungkit terhadap kelompok dibawah, dan akan mendapatkan posisi sebagai anggota kabinet di masa depan. Usia Ganjar masih muda, masih ada kesempatan untuk berlaga di pilpres 2029,” ungkap Dedi. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]