Rating 599 BPR: “Enam BPR Cetak Skor Tertinggi di Kelasnya”

Rating 599 BPR: “Enam BPR Cetak Skor Tertinggi di Kelasnya”

Rating 599 BPR: “Enam BPR Cetak Skor Tertinggi di Kelasnya”
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Hasil penilaian atau pemeringkatan bisa mendongkrak reputasi BPR di mata nasabah dan masyarakat. Paulus Yoga

Jakarta–“Rating 599 BPR versi InfoBank 2015” yang dilakukan Biro Riset Infobank (birI) memunculkan enam bank perkreditan rakyat (BPR) dengan skor tertinggi di kelasnya masing-masing. Bahkan, ada satu BPR berhasil skornya nyaris sempurna, yakni BPR LPK Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang berhasil meraih nilai sebesar 99,87%.

Keenam BPR yang berhasil mencetak skor tertinggi di kelasnya masing-masing adalah BPR Surya Yudhakencana dari Banjarnegara yang mencetak skor tertinggi (92,89%) dari sembilan BPR di kelas BPR beraset Rp1 triliun ke atas; BPR Bank Bapas 69 dari Magelang meraih skor tertinggi (98,94%) dari delapan BPR di kelas BPR beraset Rp500 miliar sampai dengan di bawah Rp1 triliun; BPR Arfindo dari Manokwari berhasil meraih skor tertinggi (97,14%) dari 32 BPR di kelas BPR beraset Rp250 miliar sampai dengan di bawah Rp500 miliar; BPR LPK Cipatujah dari Tasikmalaya meraih skor tertinggi (99,87%) dari 126 BPR di kelas BPR beraset Rp100 miliar sampai dengan di bawah Rp250 miliar; BPR Bumi Bekasiartha dari Bekasi meraih skor tertinggi (99,78%) dari 171 BPR di kelas BPR beraset Rp50 miliar sampai dengan di bawah Rp100 miliar, dan BPR Cahaya Binawerdi dari Badung dengan skor 99,18%.

Rating BPR Versi Infobank tahun ini merating 599 BPR beraset Rp25 miliar ke atas. Dari hasil rating tersebut, 433 BPR berhasil meraih predikat Sangat Bagus, 108 BPR berpredikat Bagus, 25 BPR berpredikat Cukup Bagus, 32 BPR berpredikat Tidak Bagus, dan 1 BPR tereliminasi.

Menurut Eko B. Supriyanto, Direktur Biro Riset Infobank, pendekatan yang digunakan Biro Riset Infobank untuk rating BPR ini adalah rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. Bahan bakunya adalah laporan keuangan BPR tahun buku 2013 dan 2014. BPR yang hanya mengeluarkan laporan keuangan selain per Desember 2014 tak diikutsertakan dalam rating, meski asetnya triliunan rupiah.

Ada lima kriteria penilaian untuk menetukan kinerja BPR selama dua tahun buku tersebut. Kelima kriteria tersebut adalah permodalan yang menyangkut rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan pertumbuhan modal; kualitas aset dengan menggunakan dua pendekatan rasio jumlah kredit non performing loan (NPL) dengan jumlah kredit dan pertumbuhan kredit; rentabilitas yang meliputi tiga unsur, yaitu rasio laba dibandingkan dengan modal, rasio laba dibandingkan dengan aset, dan pertumbuhan laba; likuiditas yang berpatokan pada loan to deposit ratio (LDR) dan pertumbuhan dana pihak ketiga; efisiensi yang menggunakan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) dan rasio net interest margin (NIM).

Dibanding tahun sebelumnya, jumlah BPR yang di-rating tahun ini lebih banyak. Tahun lalu, BPR yang di-rating sebanyak 547 BPR, dengan 367 BPR yang berhasil meraih predikat Sangat Bagus. Secara jumlah dan kualitas, BPR tahun ini lebih banyak dan lebih baik kinerjanya. “Kendati perekonomian melambat sejak tahun lalu, namun banyak BPR berhasil memanfaatkan celah untuk mempertahankan pertumbuhan aset produktifnya,” ujar Eko B. Supriyanto, Direktur Biro Riset Infobank (8/7/2015).  (*)

@bangbulus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]