Poin Penting
- Inflasi plastik tidak berdampak signifikan pada COGS KEJU.
- Strategi utama: efisiensi, inovasi, dan ekspor.
- KEJU targetkan pertumbuhan double digit pada 2026.
Jakarta – Mulia Boga Raya (IDX: KEJU), produsen olahan susu dengan merek Prochiz dan Mayo, menyatakan tetap terdampak inflasi harga plastik akibat konflik Timur Tengah.
Namun, dampak tersebut dinilai tidak signifikan terhadap biaya pokok penjualan (cost of goods sold/COGS).
Direktur dan Corporate Secretary Mulia Boga Raya, Jeffry Halim menjelaskan bahwa plastik bukanlah material utama atau vital dalam struktur biaya Perseroan.
“Cukup beruntung kami terkait dengan plastik. Itu bukanlah satu material utama terkait dengan COGS yang ada di Perseroan,” ujar Jeffry saat acara paparan publik di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Baca juga: KEJU Tebar Dividen Rp89,88 Miliar, 50 Persen dari Laba 2025
Ia menambahkan, kenaikan COGS akibat inflasi plastik masih dalam batas terkendali. “Jadi, harusnya estimasi kenaikan COGS per unitnya tidak akan banyak, tidak akan lebih mencapai double digit,” bebernya.
Efisiensi dan Inovasi jadi Strategi Utama
Perusahaan akan mengedepankan inovasi, baik pada material maupun proses produksi, untuk menjaga efisiensi biaya.
Direktur Utama Mulia Boga Raya, Indrasena Patmawidjaja, menegaskan bahwa kenaikan harga jual menjadi opsi terakhir. Langkah efisiensi juga dilakukan melalui pengurangan penggunaan plastik, sejalan dengan komitmen keberlanjutan perusahaan.
“Ini tak saja karena kenaikan harga plastik, tapi juga untuk yang kita sebut sustainability. Bagian dari program ESG kami. Begitu juga dengan kertas. Jadi, inovasi atau drive kami untuk ini terus berlanjut. Dengan situasi sekarang tentunya harus ada akselerasi,” terang Indrasena.
Baca juga: Produsen Keju Prochiz Catat Kinerja Solid di 2024, Laba Naik 83 Persen di 2024
Untuk menghadapi tekanan nilai tukar rupiah, perusahaan mengandalkan peningkatan penjualan ekspor serta skala produksi yang lebih besar.
“Ini sedikit tidaknya ikut membantu untuk memitigasi nilai tukar rupiah sekarang yang kita lihat memang sedikit melemah,” sambung Jeffry.
Kinerja Tumbuh dan Target Double Digit
Sebagai informasi, secara keseluruhan sepanjang 2025, KEJU berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 22,1 persen menjadi Rp179,44 miliar dari Rp146,88 miliar pada periode yang sama pada 2024.
Hal itu didukung dengan kenaikan penjualan bersih sebesar 19,1 persen menjadi Rp1,50 miliar dari Rp1,26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk tahun 2026, KEJU menargetkan bisa kembali tumbuh double digit.
Sementara itu, terkait pemenuhan syarat free float (kepemilikan saham publik) 15 persen dari Bursa Efek Indonesia (BEI), KEJU yang saat ini baru memiliki free float sekitar 10 persen dengan kapitalisasi saham di bawah 5 triliun, akan terus meningkatkan persentase free float secara bertahap sampai 31 Maret 2029. (*) Steven Widjaja







