Poin Penting
- Ekspor Indonesia Januari–Maret 2026 mencapai USD66,85 miliar, naik tipis 0,34 persen yoy. Kenaikan terutama ditopang sektor industri pengolahan dengan andil 3,15 persen
- Ekspor nonmigas tumbuh 0,98 persen menjadi USD63,60 miliar, didorong komoditas seperti nikel, CPO, kimia organik, dan elektronik.
- Secara tahunan pada Maret 2026, ekspor justru turun 3,10 persen yoy akibat penurunan komoditas utama seperti minyak nabati, kakao, serta kopi dan rempah-rempah.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada periode Januari-Maret 2026 sebesar USD66,85 miliar atau naik 0,34 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar USD66,62 miliar.
“Total nilai ekspor sepanjang Januari-Maret 2026 mengalami peningkatan sebesar 0,34 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 3,15 persen,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, dalam Rilis BPS, Senin, 4 Mei 2026.
Secara rinci, sepanjang kuartal I 2026 nilai ekspor migas tercatat sebesar USD3,25 miliar, turun 10,58 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu pada periode sama sebesar USD3,64 miliar.
Baca juga: Breaking News! BPS Catat Inflasi April 2026 Sentuh 0,13 Persen
Sementara, ekspor non migas naik sebesar 0,98 persen atau secara nilai sebesar USD63,60 miliar, dibandingkan Januari-Maret 2025 sebesar USD62,98 miliar.
Ateng menyebut, kenaikan ekspor non migas ini, utamanya didorong oleh kenaikan di sektor industri pengolahan. Di mana sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non migas sepanjang Januari-Maret 2026, dengan andil sebesar 3,15 persen.
“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar, yaitu nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya,” jelasnya.
Sementara berdasarkan negara dan kawasan tujuan utama ekspor, nilai ekspor non migas ke Tiongkok sebesar USD16,50 miliar atau naik 17,49 persen dibandingkan tahun lalu pada periode sama.
“Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama tahun lalu, pada Januari-Maret 2026 ekspor non migas ke India, dan ASEAN mengalami peningkatan sementara ke AS dan Uni Eropa mengalami penurunan,” imbuhnya.
Adapun secara tahunan (year on year/yoy), nilai ekspor Indonesia menurun 3,10 persen yoy atau USD25,53 miliar di Maret 2026, dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama sebesar USD23,25 miliar.
Ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas turun 11,84 persen menjadi USD1,28 miliar, serta ekspor nonmigas juga turun sebesar 2,52 persen atau USD21,25 miiar.
Baca juga: Neraca Perdagangan RI Surplus USD2,51 Miliar di Akhir 2025
Ateng menjelaskan, penurunan nilai ekspor pada Maret 2026 secara tahunan utamanya dipicu oleh penurunan nilai ekspor non migas, yaitu komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang turun 27,02 persen, dengan andil 3,52 persen.
Kemudian, disusul oleh kakao dan olahannya yang turun 50,89 persen, dengan andil 0,75 persen, serta kopi/teh dan rempah-rempah menurun sebesar 54,69 persen dengan andil -0,68 persen. (*)
Editor: Galih Pratama


