Poin Penting
- Eksplorasi Bukit Peramun menghadirkan pengalaman wisata alam berkelanjutan berbasis masyarakat, didukung program Desa Bakti BCA sejak 2018
- Kawasan ini kian diakui secara nasional dan internasional, ditopang inovasi digital, penghargaan lingkungan
- Selain Bukit Peramun, Desa Wisata Kreatif Terong menawarkan wisata edukatif dan ekonomi produktif.
Belitung – Langit Belitung belum sepenuhnya meredup ketika langkah kaki mulai menapaki jalur setapak Bukit Peramun. Jarumnya menunjukkan tepat pukul 16.00 WIB. Sinar matahari sore menyusup di antara rimbun pepohonan, memantul lembut di batang-batang kayu, menghadirkan nuansa hangat yang sulit ditolak.
Di sinilah, eksplorasi dimulai. Infobanknews berkesempatan mengeksporasi kawasan yang menjadi salah satu Desa Bakti PT Bank Central Asia (BCA) sejak 2018. Bukan sekadar pendakian ringan, tempat ini menawarkan pengalaman menyatu dengan alam yang telah dirawat dan ditata dengan pendekatan berkelanjutan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, kontribusi BCA di Desa Bakti BCA merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan daya tarik wisata sekaligus perekonomian UMKM di sekitar destinasi wisata. Tak sekadar memberikan pendampingan, Bakti BCA juga memastikan desa binaannya bisa naik kelas menjadi desa yang mandiri.
“Kami senantiasa mendorong desa-desa yang telah menjadi binaan Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik yang dimiliki. Semoga dukungan kami bisa memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Hera, Sabtu, 25 April 2026.
Baca juga: myBCA Belitung Multisport Festival 2026 Dongkrak Ekonomi Daerah
Menikmati Laut Cina Selatan di Bukit Peramun
Bukit Peramun berlokasi di pusat segitiga pariwisata Belitung–meliputi Kota Tanjung Pandan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang, dan Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin–Bukit Peramun menawarkan pengalaman wisata alam yang autentik.
Dengan ketinggian 129 meter di atas permukaan laut, kawasan ini menyuguhkan panorama hutan alami yang masih asri, hamparan batu granit khas Belitung, serta pemandangan Laut Cina Selatan dan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Bukit Peramun dapat dijangkau dengan mudah menggunakan kendaraan pribadi. Jarak tempuh dari pusat Kota Tanjung Pandan sekitar 20 kilometer, sementara dari Bandara H.A.S. Hanandjoeddin sekitar 22 kilometer.
Sejak tahun 2006, Bukit Peramun dikelola secara mandiri oleh masyarakat melalui kelompok Hutan Kemasyarakatan Arsel. Kemudian pada tahun 2017, kawasan ini mulai dibuka untuk kunjungan wisata dengan mengusung konsep community-based tourism, yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, pelestarian lingkungan, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal.
Konsistensi dalam pengelolaan tersebut membuahkan pengakuan nasional. Pada 2023, Bukit Peramun resmi dinobatkan sebagai Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebagai bentuk apresiasi atas inovasi digital yang diterapkan dalam pengelolaan wisata.
Selain itu, Bukit Peramun juga meraih penghargaan Green Gold kategori Pelestarian Lingkungan dalam ajang Indonesian Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2019.
Sejalan dengan pencapaian tersebut, Bukit Peramun semakin naik kelas di mata internasional. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dalam beberapa tahun terakhir, pada 2023 ada sekitar 387 wisatawan lalu naik menjadi 485 wisatawan pada 2025.
Di sisi lain, minat wisatawan domestik untuk mengunjungi Bukit Peramun juga tak surut. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 1.648 wisatawan domestik mengunjungi Bukit Peramun, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.356 wisatawan domestik.
Seiring dengan kenaikan jumlah pengunjung, para pengurus desa konsisten mengaplikasikan berbagai inovasi teknologi baru, misalnya aplikasi virtual assistant berbasis android, untuk memperkenalkan jenis dan manfaat tanaman di Bukit Peramun serta virtual guide dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris).

Salah satu daya tarik dari Bukit Peramun adalah pengunjung berkesempatan untuk menyaksikan langsung satwa langka, yakni tarsius.
Perimata mungil yang memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun. Hewan ini kerap keluar pada saat senja hingga malam hari.
Bersama dengan rekan media dari Jakarta, Infobanknews pun tak melewatkan momen menyaksikan hewan tarsius.
Baca juga: BCA Genjot Pertumbuhan Bisnis Lewat Travel Fair
Berbagai Aktivitas di Desa Wisata Kreatif Terong

Tak hanya Bukit Peramun dan masih di Kawasan Belitung, ada salah satu Desa Bakti BCA lainnya bernama Desa Wisata Kreatif Terong. Desa ini berlokasi di pesisir pantai utara Kabupaten Belitung, Desa Wisata Kreatif Terong berjarak sekitar 27,5 kilometer dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin atau dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 40 menit.
Desa yang terletak di area bekas tambang timah ini menjadi kawasan wisata produktif ekonomi yang memadukan alam dan edukasi, seperti Wisata Aik Rusa Berehun dan hiking.
Memanfaatkan bekas tambang timah yang direklamasi secara swadaya oleh komunitas, Wisata Aik Rusa Berehun kini menjelma destinasi menarik yang dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti warung jualan UMKM, tempat pertunjukan seni, hingga pondok pertemuan.
Aktivitas memancing ikan seperti nila, lele, dan patin juga menjadi pilihan menarik yang dapat dilakukan saat mengunjungi desa ini.
Menutup eksporasi di Desa Terong, Infobanknews bersama rekan media lainnya menyantap hidangan khas Belitung dengan tradisi Makan Bedulang. Ini merupakan tradisi makan bersama khas Belitung yang menggunakan dulang atau nampan besar sebagai wadah hidangan, ditutup dengan tudung saji merah.
Empat orang duduk bersila mengelilingi satu dulang. Untuk memulai makan bersama pun ‘diatur’ berdasarkan budaya di sana. Etikanya yang membuka dulang haruslah orang paling tua di antara keempat orang tersebut.
Sedangkan orang yang mengambilkan makanan adalah orang yang paling muda. Ini sebagai bentuk penghormatan pada orang yang lebih tua. (*)








