Jakarta – Asuransi Jiwasraya telah membuat malu negara Indonesia. Sebagai perusahaan milik negara yang mengklaim keberadaannya dijamin oleh pemerintah, Jiwasraya seperti lari dari tanggung jawabnya ketika 17.721 nasabahnya ingin mencairkan polis produk saving plan yang dijual melalui bancassurance dengan tujuh bank.

Yang lebih memalukan lagi, 474 orang Korea Selatan yang menjadi nasabahnya sampai harus berteriak kencang untuk menagih klaim sebesar Rp572 miliar kepada Jiwasraya. Sejumlah nasabah Jiwasraya yang ditemui Infobank awal Oktober lalu merasa kebingungan harus mengadu kemana lagi.

Sejumlah menteri sampai pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sudah pernah mereka temui. Tapi janji tinggal janji. Sementara, total klaim produk saving plan yang ketika terkuak gagal bayar sebesar Rp803 miliar kini membengkak menjadi lebih dari Rp16,42 triliun.

Sejak terkuak kasus gagal bayar klaim produk saving plan pada akhir 2018, para pejabat Jiwasraya yang kini dipimpin Hexana Tri Sasongko memilih bungkam. Ketika Infobank meminta keterangan Sentot A Santoso yang menjadi komisaris utama pun tidak ada respon.

Para pejabat regulator maupun pemerintah pun seperti tak ada yang berani melaporkan masalah Jiwasraya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena sifat mereka yang umumya ingin membuat “asal bapak senang”. Terlebih, sebelum penetapan kabinet baru minggu terakhir Oktober lalu, dan para pejabat ingin mengamankan posisinya agar tetap dipercaya oleh presiden.

Untuk meredam teriakan para korban orang-orang Korea yang bisa membuat presiden menanggung malu, Jiwasraya mencairkan polis kepada 10 orang Korea pada 4 Oktober 2014. Namun, nilainya pun yang di bawah Rp500 juta. Lagi-lagi, para nasabahnya pun merasa tertipu. Karena setelah itu tidak ada kabar lagi.

“Sebenarnya itu hanya pura-pura aja. Biar kalau ada wartawan yang tanya, mereka bisa jawab udah mulai bayar. Kurang ajar sekali kan,” ujar Lee Kang Hyun, pria asal Korea Selatan yang menjadi salah satu korban kepada Infobank medio bulan lalu.

Hyun mengaku bingung dengan komitmen perusahaan milik negara seharusnya sama dengan komitmen sebuah negara. “Bagaimana ada negara seperti begini. Pusing deh,” tandasnya.

Seperti apa kondisi Jiwasraya dan mengapa pemerintah mlengos ketika 474 orang Korea Selatan yang jadi nasabahnya merasa dirugikan dan karena haknya ditelantarkan mereka sampai melaporkan inkonsistensi Jiwasraya ke parlemen dan pemerintah Korea Selatan? Baca ulasang lengkapnya di Majalah Infobank Nomor 499 November 2019. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OTT KPK di Bea Cukai: Eks Direktur P2 DJBC Ditangkap, Uang Miliaran-Emas 3 Kg Disita

Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More

3 hours ago

Istana Bantah Isu 2 Pesawat Kenegaraan untuk Prabowo, Ini Penjelasannya

Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More

3 hours ago

BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More

3 hours ago

Apa Untungnya Danantara Masuk Bursa Saham? Ini Kata Pakar

Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More

3 hours ago

BTN Ungkap Penyebab NPL Konstruksi Tinggi, Fokus Bereskan Kredit Legacy

Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More

4 hours ago

Risiko Bencana Tinggi, Komisi VIII Minta Anggaran dan Sinergi Diperkuat

Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More

4 hours ago